Daging Dan Telur: Sungguh Baikkah Untuk Tubuh Kita?

Sumber: Buku pH Miracle, Robert O. Young, PhD DSc dan Shelley Redford Young, LMT
Penulisan huruf tebal/kapital sesuai aslinya.

Seperti produk olahan susu, semua produk hewan – yakni daging [sapi, domba, babi, ayam, kalkun, dsb] dan telur penuh dengan hormone, pestisida, steroid, antibiotik, mikroba, mikotoksin, dan lemak jenuh yang berkontribusi terhadap penyakit jantung, stroke, dan kanker. [Sementara lemak itu sendiri juga bagian dari masalah, karena dalam lemak-lah seluruh zat racun bersarang.] Dan daging maupun telur bersifat sangat asam [sebagai pembentuk asam tinggi] dalam tubuh kita.

ADA KORELASI KUAT ANTARA PROTEIN HEWANI DENGAN BEBERAPA JENIS KANKER, TERUTAMA KANKER PAYUDARA, KANKER TIROID, KANKER PROSTAT, KANKER PANKREAS, KANKER ENDOMETRIUM, KANKER OVARIUM, KANKER PERUT, DAN KANKER USUS BESAR. Disebutkan bahwa orang yang mengonsumsi 70% protein dari makanan hewani memiliki masalah kesehatan lebih besar dibandingkan yang hanya 5%. Mereka berisiko 17 kali mendapatkan kematian akibat penyakit jantung dan berisiko 5 kali lebih tinggi mendapatkan kanker payudara [untuk perempuan].

Mengonsumsi telur terkait dengan meningkatnya risiko kanker usus besar. Ini tidak mengejutkan, karena telur berasal dari ayam yang diberi pakan biji-bijian yang umumnya sudah mengandung mikotoksin [zat racun berasal dari kapang/”jamur” yang tumbuh pada pakan]. Lima belas menit setelah makan telur, terlihat adanya peningkatan jumlah bakteri dalam darah kita. Studi di Australia juga menunjukkan hubungan yang positif antara konsumsi telur dengan kanker usus besar; serta kaitan kanker usus besar dengan daging ternak, hati, produk susu, dan unggas. Dalam penelitian lain disebutkan unggas, ham, daging asap, sosis meningkatkan risiko kanker tiroid; sama seperti keju.

Jenis lemak hewan yang dikonsumsi juga memengaruhi munculnya jenis kanker, khususnya kanker endometrium, kanker ovarium [indung telur], dan kanker lambung. Para responden dalam penelitian tersebutnya umumnya makan lebih banyak daging asap dan ham, sering memasak menggunakan mentega, dan minum lebih banyak susu. Dalam penelitian lain di Swedia disebutkan mengonsumsi lebih banyak daging goreng maupun panggang berhubungan dengan risiko tinggi menderita kanker pankreas. [Risiko tinggi kanker pankreas juga ditemukan pada responden dengan kebiasaan mengonsumsi roti oles margarin! Fakta ini untuk mengingatkan kita bahwa hanya dengan menjadi vegetarian saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah.] Nutrisi apa pun yang ada dalam makanan hewani tidak sebanding dengan risiko yang kita dapat. Belum lagi energi tubuh yang terkuras untuk mencernanya dan menyerap nutrisinya.

SECARA ANATOMIS DAN FISIOLOGIS, MANUSIA TIDAK DIRANCANG UNTUK MENJADI KARNIVORA [PEMAKAN BINATANG] ATAU OMNIVORA [PEMAKAN TUMBUHAN DAN JUGA BINATANG]. Saluran pencernaan manusia yang panjang dan rumit dirancang untuk penyerapan yang lambat dan stabil terhadap berbagai makanan. Karnivora [binatang pemakan daging] memiliki usus pendek dan sederhana, yang memungkinkan makanan hewani mati melewatinya dalam waktu singkat. Mikroorganisme usus hewan pemakan daging juga berbeda dari manusia. Di sisi lain, pencernaan karbohidrat pada manusia cukup rumit, sedangkan karnivora hanya makan sedikit karbohidrat atau tidak sama sekali. Jika manusia itu karnivora, kita akan berkeringat melalui lidah kita, bukan kulit kita. Pemakan daging memiliki gigi dan rahang yang dirancang untuk merobek-robek binatang hasil buruan, sedangkan kita mengatasinya dengan bantuan tangan kita. Belum lagi fakta bahwa kita tidak mendapatkan nutrisi yang terkandung dalam bulu, organ, dan tulang makanan hewani, sebagaimana yang didapat oleh karnivora sejati. … Manusia dirancang untuk menjadi vegetarian, dan tubuh kita tidak akan bekerja sebaik-baiknya jika kita tetap memaksanya untuk melakukan sesuatu yang tubuh kita tidak sanggup tangani.

ULASAN WIED HARRY:
Ternyata, tubuh kita memiliki kemampuan terbatas mencerna makanan hewani. Selain itu, dalam makanan hewani tersimpan banyak zat merugikan bagi kesehatan tubuh kita, terlebih karena kandungan lemaknya dan oleh karena lemak itu pula sebagai media “bersarangnya” zat toksin. Karena itu, sebaiknya batasi konsumsi makanan hewani atau hindari sama sekali, perbanyak mengonsumsi pangan nabati, terutama pangan pembentuk basa/alkali – khususnya sayur-sayuran segar mentah dan buah-buahan segar. Protein nabati bisa dicukupi terutama dari polong-polongan [kacang merah, kacang hijau, kacang tolo, kedelai putih/hitam, tempe, tahu] dan sayur-sayuran hijau [brokoli, bayam, kangkung, kacang panjang, buncis, dll]. Contoh pola makan dengan konsumsi makanan hewani terbatas adalah Food Combining [FC]. Contoh pola makanan tanpa asupan makanan hewani adalah vegetarian dan vegan [vegetarian “kenceng”].

Secara bertahap, anggarkan dana belanja untuk mendapatkan pangan organik, terutama yang paling banyak dikonsumsi oleh keluarga, seperti beras, tempe/tahu, serta sayur-sayuran dan buah-buahan tertentu favorit keluarga. Pangan organik tidak harus yang secara tegas berlabel organik, karena masih cukup banyak pangan di pasar tradisional yang dipastikan masih tumbuh atau ditanam secara organik [tanpa semprotan pestisida, pemberian hormon tumbuh, maupun pemupukan kimiawi sintetis]. Contohnya terutama buah-sayuran lokal, khususnya yang tidak/kurang populer, seperti sirsak, menteng, bisbol, srikaya, daun pakis, daun katuk, daun melinjo, daun mengkudu, dll. [Jangan mengeluh pangan organik itu mahal, jika Anda sama sekali tidak pernah mengeluh ketika merogoh kocek untuk membayar fast food atau nonton bioskop!]

daing n telur

Pubertas Dini VS Kanker

Sumber: Buku The Hallelujah Diet, DR. George Malkmus

“Joel Fuhrmnan, M.D. penulis buku Eat to Live, mencatat adanya sebuah korelasi antara usia mulai puber dan jenis-jenis kanker:
Kita tahu melalui penelitian bertahun-tahun bahwa semakin cepat hewan tumbuh dan dewasa, semakin cepat mereka akan mati. Ini mempercepat proses penuaan. Hewan-hewan yang diberi makan dengan kalori lebih sedikit mengalami penuaan yang lebih lambat dan hidup lebih lama. Sehingga, kita tidak ingin mempercepat pertumbuhan anak-anak kita.
Seratus tahun yang lalu, usia rata-rata awal pubertas adalah sekitar 17 tahun, di seluruh dunia. Kini di Amerika, usia rata-ratanya adalah 12 tahun dan semakin bertambah muda tahun-tahun terakhir, dengan makin banyaknya anak yang mengalami pubertas di usia 8, 9, dan 10 tahun. Pada anak-anak perempuan telah ditetapkan dalam literatur ilmiah bahwa semakin muda usia pubertas, semakin besar risiko kanker payudara yang harus dihadapi.

Dan juga, data terkini dari Harvard University menunjukkan ketika pola makan perempuan rendah lemak hewan atau bila mereka sama sekali tidak mengonsumsi hewan, maka kanker payudara semakin tidak mungkin terjadi.
Bagi pria, tampaknya perubahan pola makan sama berpengaruhnya. Di sini, kita melihat manfaat-manfaat khusus bukan hanya dengan menghindari daging, tetapi juga dengan menghindari produk-produk susu. Sejumlah bukti yang substansial [Wied Harry: substansial = sangat kuat, sangat meyakinkan] menunjukkan bahwa dengan menghindari produk-produk susu dapat menurunkan risiko kanker prostat hingga ke tingkat yang sangat substansial [Wied Harry: substansial = sangat rendah].”

ULASAN WIED HARRY:
Meringkas tulisan di atas, kunci menghindari pubertas dini, dalam kaitannya dengan risiko besar menderita kanker, pada anak-anak kita adalah membatasi/menghindari:
1. Lemak hewan – termasuk makanan hewani berlemak banyak. Contohnya: gajih, kulit ayam, daging berlemak (a.l. sandung lamur), ayam ras, daging hewan tertentu yang secara spesifik tinggi lemak -baik lemak tampak/visible fat maupun lemak tersembunyi/invisible fat- seperti daging babi
2. Produk susu, yakni semua jenis susu (sapi) komersial/industri/kemasan

SARAN WIED HARRY:
Anak-anak sebaiknya rakus mengonsumsi aneka buah-buahan segar. Rangsang dan dukung anak-anak kita untuk lebih menyukai dan semakin menyukai sayuran – termasuk sayuran mentah, terutama yang organik. Contoh sayuran mentah yang mudah disukai anak-anak adalah tomat (asam segar), baby carrot (manis), paprika merah (manis).

Image

Industri Makanan Kita

Sumber: Buku *Anda Tidak Perlu Sakit* – Cara Sehat Dr. Handrawan Nadesul, hal. 268, Penerbit Buku Kompas

MSG LAGI, MSG LAGI

“Dulu pemakaian penyedap masakan menggunakan takaran terbuat dari kayu ramping layaknya sendok es krim, dengan tujuan agar takaran tidak berlebihan. Sekarang dengan leluasa menuang langsung dari kantung kemasan, atau dengan sendok makan.

Padahal, sudah banyak bukti kelebihan penyedap untuk waktu lama mencetuskan kanker. Sampai sekarang takaran penyedap di restoran, mi bakso, soto, dan sejenisnya lipatan kali dosis yang aman dari ancaman kanker dan tidak mendapat peringatan.”

ULASAN WIED HARRY:
Pro-kontra penggunaan produk MSG adalah hal wajar, terlebih karena ini menyangkut kepentingan bisnis. Para ilmuwan yang pro menyebutkan produk MSG aman, asal dikonsumsi dalam batas wajar. Nah, sayangnya batas wajarnya itu seberapa bisa kita patuhi jika nyaris semua makanan saat ini sudah dibubuhi produk MSG?

Sejak beberapa waktu lalu, saya pribadi berkeputusan untuk tidak lagi terlibat dalam “debat produk MSG”. Bagi saya, lebih penting mengajak masyarakat membelanjakan uangnya untuk membeli bahan-bahan makanan dan bumbu alami yang kaya dengan MSG alami. Sebab, bahan-bahan tersebut juga kaya dengan serat dan nutrisi, dibanding produk MSG yang tidak mengandung apa pun.

Semua bahan yang lazim digunakan oleh nenek dan ibu kita untuk membuat kaldu, kaya MSG alami. Contoh bahan kaya MSG alami untuk kaldu hewani: ayam, ikan, daging [termasuk tulang-tulangnya]; udang [termasuk kulitnya]. Contoh bahan kaya MSG alami untuk kaldu nabati: tomat, bawang bombai, seledri, daun bawang, wortel. Bahan-bahan makanan lain dan bumbu yang berlimpah MSG alami adalah bawang merah, bawang putih, tempe, taoco, terasi, ebi, rebon/impun, dll.

Satu hal lagi, penyebutan produk MSG dengan nama dagang “penyedap masakan” adalah trik untuk memenjarakan pikiran kita agar meyakini bahwa tanpa produk tersebut masakan kita tidak sedap. Sejak sekarang, lepaskan pikiran itu! Yuk kita gunakan hanya MSG alami dalam bahan-bahan makanan dan bumbu alami … Lebih hemat, lebih sehat! Masakan dijamin lezat!

Image

Minum Banyak Air Yang Baik, Mengurangi Berat Badan

Sumber: *The Miracle of Enzyme* Hiromi Shinya, MD, penerbit Qanita

Jika mengelilingi kota New York, Anda akan sering berpapasan dengan orang-orang gemuk yang berjalan sambil membawa air botol. Ini karena banyak minum air dianggap efektif untuk berdiet. Pemikiran bahwa berat badan dapat berkurang hanya dengan minum air mungkin terdengar seperti tipuan, tetapi pemikiran itu mengandung sebagian kebenaran.

Saat Anda minum air, saraf-saraf simpatetik mulai terstimulasi, mengaktifkan metabolisme energi serta meningkatkan konsumsi kalori, dan hasilnya adalah berkurangnya berat badan. Saat Anda menstimulasi saraf simpatetik, (hormon) adrenalin disekresikan [Wied Harry: disekresikan = diproduksi dan “dikeluarkan”/diedarkan]. Adrenalin mengaktifkan (enzim) lipase dalam jaringan lemak yang sensitif terhadap hormon, yang kemudian menguraikan trigliserida menjadi asam lemak dan gliserol sehingga tubuh menjadi lebih mudah membakar lemak yang tersimpan.

Ada beberapa laporang yang menunjukkan betapa besar peningkatan konsumsi kalori sebagai akibat minum air. Menurut laporan-laporan ini, dengan minum sedikit lebih banyak daripada 2 gelas air secara teratur 3 kalo sehari meningkatkan jumlah kalori yang dibakar dalam tubuh sebesar kira-kira 30%. Terlebih lagi, sekitar 30 menit setelah minum air, tingkat PEMBAKARAN KALORI mencapai puncaknya.

***Air yang BERSUHU LEBIH RENDAH daripada suhu tubuh, tetapi tidak sedingin es, adalah air yang paling efektif untuk menurunkan berat badan.***

Dengan kenyataan ini, menjadi jelas bahwa orang-orang yang kelebihan lemak (tubuh alias kegemukan) sebaiknya membiasakan diri untuk minum setidaknya 6,5 GELAS AIR YANG BAIK SETIAP HARI. Dan jenis air apakah yang paling efektif untuk tujuan ini? Air yang suhunya lebih rendah daripada suhu tubuh Anda tapi tidak sedingin es. Menurut hasil eksperimen, air dingin bersuhu sekitar 21 oC akan meningkatkan konsumsi kalori. Air dingin dianggap bagus karena cukup banyak energi digunakan untuk menghangatkan air tersebut agar menyamai suhu tubuh.

Tubuh manusia dilengkapi dengan berbagai cara untuk MENSTABILKAN SUHU TUBUH. Contohnya, jika Anda pergi ke kamar mandi dan buang air kecil pada pagi hari yang dingin, Anda akan menggigil. Ini karena urine yang hangat, yang telah terakumulasi di dalam kandung kemih, tiba-tiba keluar dari dalam tubuh, dan menyebabkan tubuh menggigil untuk mendapatkan kembali sebagian dari kehangatan itu.

Kutipan dari halaman lain buku The Miracle of Enzyme:
… Namun, ingatlah bahwa jika Anda mencoba untuk meningkatkan konsumsi energi dengan cara meminum air yang terlalu dingin, seperti air es, hasilnya akan menimbulkan efek sebaliknya. Ini terjadi karena air yang terlalu dingin mendinginkan tubuh dengan seketika sehingga menyebabkan diare dan berbagai masalah fisik lainnya.

Akhir-akhir ini, terjadi peningkatan jumlah orang, terutama orang-orang muda, yang memiliki “SINDROM SUHU TUBUH RENDAH”, yakni rata-rata suhu tubuh seseorang sekitar 35 oC. Suhu tubuh yang rendah ini dapat menyebabkan berbagai efek yang berbahaya. Suhu tubuh normal seseorang yang sehat adalah sekitar 37 oC, tetapi begitu suhu tubuh menurun, KECEPATAN METABOLSIME PUN MENURUN hingga sekitar 50%. …

ULASAN WIED HARRY:
Ringkasan dari penjelasan di atas, minum air sejuk (bersuhu sekitar 21 oC) memacu pembakaran kalori, sehingga mempercepat proses penurunan berat badan pada penyandang kegemukan. Namun jika Anda minum air es dengan harapan akan terjadi pembakaran kalori lebih cepat lagi, yang terjadi justru sebaliknya: kecepatan sistem metabolisme -termasuk pembakaran kalori- melambat 50%.

air

Manusia Terus Memicu Kankernya Sendiri

Dikutip dari buku “Sehat Sejati Yang Kodrati” Dr. Tan Shot Yen, M.Hum., hlm. 295-7

Sangatlah wajar dlm kehidupan bila sel mengalami mutasi. Diperkirakan tubuh kita setiap detiknya memproduksi 50 juta sel baru (perhitungkan pula berapa juta yg rontok dan menua setiap harinya: meninggalkan tubuh). 

Error selagi membuat sel-sel baru menghasilkan sel yg mempunyai kerusakan DNA, si pembawa sifat sel itu. Sel-sel produk error ini bisa membelah diri dengan kecepatan lebih tinggi dan mereka tidak mati selayaknya sel lain. Rata-rata manusia menciptakan jutaan sel seperti itu (yg kemudian disebut sebagai ‘kanker’) setiap hari. Kabar baiknya, bila kita sehat maka tubuh mempunyai banyak sekali pertahanan alamiah untuk menghancurkan sel-sel tersebut. Biasanya tubuh mampu mengendalikannya. Sebelum kelompok sel ini bertingkah, sudah terlebih dahulu dibasmi.

Penyakit yg kita sebut kanker sebetulnya sekadar proses di mana keseimbangan alam di atas terganggu. Sel-sel yg bermutasi (mengalami keanehan itu) mulai tumbuh lebih cepat daripada kemampuan tubuh secara alamiah membasminya. Akhirnya, kumpulan sel ini membentuk massa yg kemudian disebut sebagai ‘tumor’ (benjolan yg tidak normal).

Biopsi (mengangkat sedikit jaringan untuk diperiksa di bawah mikroskop) bukan hanya penegas apakah massa disebut kanker atau tidak, tapi dengan mampunya seorang dokter melihat derajad diferensiasi (keanehan) error sel yg bisa dikategorikan berdiferensiasi ‘buruk’ atau ‘baik’. Ini artinya kita masih diberi peluang untuk memikirkan cara lain agar sel kembali berfungsi dan berbentuk normal dengan perbaikan gaya hidup. Namun apa yg terjadi? Peluang ini tidak pernah digunakan. Bahkan upaya memperbaiki pola makan dan gaya hidup dilecehkan, pun setelah operasi – serangkaian kemoterapi dan radiasi dijatuhkan sebagai vonis tanpa pilihan. 

John Herring, seorang kontributor senior Total Health Breaktrough seperti halnya beberapa dokter yg prihatin dengan gaya hidup masa kini, sangat menganjurkan manusia untuk berhenti meracuni diri. Sayangnya, kesadaran tentang ‘apa sih racun itu?’ masih sangat minim. Kita pikir apa yg kita anut selama ini sebagai pola makan sudah sehat, padahal kategori sehat itu sendiri ditentukan oleh orang lain yg mempunyai kepentingan tertentu. Kita pikir menghindari zat pengawet dan pewarna berarti sudah sehat, padahal setiap makan nasi dari padi penuh pestisida, menggoreng semua, menggunakan sabun berpewangi buatan, pengharum ruangan otomatis, segala macam jenis plastik kemasan makanan, pembunuh nyamuk super ampuh. Ironis, bukan?

Gula dalam makanan jangan hanya dipahami sebagai rasa manis. Pemahaman gula sudah saatnya diperdalam sebagai karbohidrat yg buruk, yg diasup tanpa sadar karena sudah dianggap makanan kebudayaan (padahal baru diturunkan 5-6 generasi)! Gula adalah makanan utama sel kanker dan kuat hubungannya dengan pertumbuhan kanker payudara, ovarium, rektum, pankreas, paru-paru, empedu, dan lambung. 

ULASAN WIED HARRY:
Selain gula, makanan-minuman lain (calon) sahabat kanker adalah produk susu, daging, makanan-minuman-bumbu kalengan/botolan/kemasan/instan/sejenisnya – terutama karena tambahan bahan sintetis dan proses pengolahan berlebihan yang mengakibatkan munculnya zat bersifat karsinogenik (pemicu kanker). 

Namun sumber utama bangkitnya bibit sel kanker adalah ketidakseimbangan asam-basa tubuh akibat pola makan selama belasan tahun dominan makanan pembentuk asam daripada makanan pembentuk basa/alkalin. Makanan pembentuk basa adalah buah-buahan segar dan sayur-sayuran segar mentah – buah-buahan yg sudah dimasak tidak lagi bersifat sebagai pembentuk basa tetapi menjadi pembentuk asam, seperti setup buah, selai buah, manisan buah. Semua makanan selain buah-buahan segar dan sayur-sayuran segar mentah adalah pembentuk asam. 

Cara praktis mencukupi asupan makanan pembentuk basa: Setiap kali makan selalu luangkan porsi setengah piring terisi penuh dengan sayuran, khususnya sayur-sayuran segar mentah. Minum segelas jus aneka sayuran setidaknya 1 kali sehari, misalnya 30 menit setelah makan malam. Selain itu, makanlah buah-buahan segar hingga kenyang (tapi bukan kekenyangan) ketia perut kosong, misalnya 30 menit hingga 1 jam sebelum makan. 

Foto: Istimewa

Image

Sudah Food Combining, Belum Ada Hasilnya

Klien: “Pak Wied, saya sudah 3 bulan FC, tapi tensi saya tetep aja tinggi. Badan saya juga masih tebel kayak bantal. Salahnya di mana ya?”
Jawaban saya: “Porsi pembentuk asam-basanya bisa saja belum seimbang dan/atau perilaku makan yang belum baik.” Rinciannya saya sarikan dari buku Mb Andang WG *Food Combining: Kombinasi Makanan Serasi*, hal. 108-109, dengan tambahan penjelasan dari saya.

Penyebab 1: ASAM-BASA TIDAK SEIMBANG
*Asupan sayuran masih kurang*. Kombinasi menu khas FC lauk hewani+sayuran (menu protein) atau nasi+lauk nabati+sayuran (menu pati) tidak menjamin tercapainya keseimbangan asam-basa jika jumlah sayurannya terbatas. Untuk mendapatkan keseimbangan asam-basa yang baik, secara kasar Anda wajib menyisihkan 1/2 – 3/4 bagian piring makan adalah jatahnya sayuran (sebagian atau sebagian besar adalah sayuran mentah), selebihnya adalah porsi nasi dan/atau lauk-pauk. Sayuran mentah bisa dikonsumsi sebagai salad sayuran atau jus sayuran. Mengapa asupan sayuran mentah dipentingkan dalam FC? Sayuran mentah kaya “jus” (cairan/kadar air): 
*kaya mineral pembentuk basa/alkali, terutama yang bersifat relaksan dan hipotensif 
*memiliki pH tinggi (8,2-9) – terutama sayuran daun hijau setelah dibuat jus/sari sayuran, diproses dengan juicer 
*kaya enzim aktif yang menjadi tonikum bagi organ – selain itu, enzim juga berfungsi sebagai “tukang bangunan” yang akan memanfaatkan asupan nutrisi untuk berbagai keperluan: membangun imunitas, peremajaan sel, pemulihan, self-healing 
*kaya antioksidan penting 

Penyebab 2: PORSI MAKAN TERLALU BANYAK
*Makan kekenyangan membuat asam lambung tidak mampu membasahi seluruh makanan yang berada dalam lambung, terutama makanan di bagian tengah.* Makanan di dalam lambung akan melorot otomatis ke bagian bawah (usus), mulai dari yang terluar yang langsung bersentuhan dengan dinding lambung dan terairi asam lambung. Selanjutnya, makanan di bagian lebih tengah akan bergeser ke arah dinding lambung, demikian seterusnya. Namun jika makanan dalam lambung terlalu penuh, maka makanan pada bagian tengah lambung akan sulit terjangkau asam lambung karena lambung sudah keburu terisi makanan baru lagi. Akibatnya, banyak makanan yang tidak tecerna dengan baik, kemudian terfermentasi/membusuk menjadi toksin. Kegemukan bukan semata disebabkan kelebihan asupan kalori (pati, protein, lemak), tapi juga lantaran timbunan toksin melebihi batas toleransi tubuh. Secara alami, tubuh kita memiliki mekanisme membentuk lemak jika timbunan toksin melebihi batas toleransi. Jika tidak, timbunan toksin tersebut akan mengganggu fungsi organ dan sistem tubuh. 

Penyebab 3: MAKAN TERGESA-GESA
*Tidak mengunyah dengan seksama membuat tekstur makanan masih cukup kasar dan tidak terbasahi air ludah dengan baik*. Makanan yang tidak tercerna dengan baik di dalam mulut tersebut akan didorong ke bawah/usus oleh gerak peristaltik lambung, sehingga makanan akan terfermentasi/membusuk di dalam usus dua belas jari dan usus halus. 

FOTO: Istimewa

Image

Makanan Buatan Pabrik Tidak “Bernyawa”

Dikutip dari buku Terapi Enzim, Hiromi Shinya, MD, hal. 83-84

… IDEALNYA, MAKANAN DARI PABRIK 0% SAJA, ARTINYA TIDAK PERLU DIMAKAN SAMA SEKALI. …

Makanan yg kita makan dapat digolongkan menurut asal-muasalnya menjadi tiga jenis. Pertama, “yg berasal dari tanah”, kedua “yg berasal dari hewan”, kemudian yg ketiga “yg berasal dari pabrik”.

Makanan yg berasal dari tanah yaitu sayuran, biji-bijian, buah-buahan, rumput laut, jamur, dan lain-lain yg tumbuh besar di tanah. Ini juga termasuk fungsi seperti jamur, tetapi karena sebagian besar adalah tumbuhan dan bibit tumbuhan, kita bisa menggolongkannya menjadi “makanan dari tumbuhan”. 

Jenis kedua, makanan yg berasal dari hewan, yaitu daging sapi, daging babi, daging ayam, dan daging lainnya, juga ikan, kerang, cumi-cumi, udang, dan lain-lain golongan ikan dan kerang, yg berarti “makanan dari hewan”. Di dalamnya termasuk pula telur dan produk olahan susu, yg diambil dari hewan.

Yg ketiga, makanan yg berasal dari pabrik, yaitu jenis makanan yg dibuat manusia secara kimiawi, yaitu “penyedap rasa” [Wied Harry: MSG dan turunannya], macam-macam bahan aditif makanan, garam halus [refined salt], gula pasir murni, pemanis buatan, dan lain-lain. Selain itu, juga termasuk makanan olahan pabrik.

Makanan yg berasal dari tanah, jika bisa dimakan, pada dasarnya tidak ada yg dilarang dan tidak ada pembatasan jumlah asupan. Boleh Anda anggap 100% boleh dimakan. Tetapi, makanan yg berasal dari hewan memerlukan pembatasan konsumsi sampai jumlah tertentu karena jika terlalu banyak menyebabkan darah mengental, dan membuat raut lambung dan raut usus menjadi jelek.

Saya berpendapat, makanan yg disantap manusia sebaiknya sebanyak 85% berupa “makanan dari tumbuhan” yg berasal dari tanah, sisanya boleh diambil dari hewan. Makanan yg berasal dari tanah 85% dan makanan yg berasal dari hewan 15%. Ini sudah 100%. Tidak ada perlunya makan makanan buatan pabrik, Karena makanan yg berasal dari pabrik tidak “bernyawa”. MAKANAN OLAHAN PABRIK, MESKIPUN DAPAT DIMAKAN, TIDAK MAMPU MENGHIDUPI NYAWA ANDA.

Maka idealnya, makanan dari pabrik 0% saja, artinya tidak perlu dimakan sama sekali.

Tetapi manusia modern sangat sulit menghindari semua makanan yg diolah di pabrik. Bahkan bisa dikatakan mustahil secara realita. Saya sendiri tidak bisa sampai 0%. Karena itulah, sangat penting berhati-hati dalam mengonsumsi makanan kita, dan sebisa mungkin pilihlah makanan yg baik bagi tubuh. Untuk porsi makanan dari tumbuhan sedapat mungkin pilihlah yg baik (yg aman), kurangilah makan makanan dari hewan untuk mencegah terkurasnya enzim ajaib. 

ULASAN WIED HARRY:
Sebagai pelaku hidup sehat alami, mestinya tidak sulit kita melakukan arahan DR. Hiromi Shinya. Karena makanan olahan pabrik, seperti saus-saus botolan [saus tomat, saus cabai, saus tiram, dll], makanan kemasan/awetan [nugget, sosis, bakso, dll], makanan instan, tidak lagi masuk dalam daftar belanja keluarga. Kita lebih mengutamakan makanan segar alami, yg kita konsumsi seperti bentuk aslinya di alam atau masih dekat dengan bentuk aslinya di alam: sayur-sayuran segar, buah-buahan segar, padi-padian/serealia [beras merah, beras hitam, jali/barley, cantel/sorghum, dll], umbi-umbian [ubi jalar, singkong, uwi, dll], polong-polongan [kacang merah, kacang hijau, kacang tolo, kacang hitam, dll]. 

Tentu saja, sebagian [sukur-sukur SEBAGIAN BESAR] konsumsi sayuran segar kita adalah SAYURAN MENTAH karena masih berlimpah enzim – baik berupa salad sayuran, jus sayuran, maupun lalap sayuran mentah. Membatasi daging bukan hanya membatasi masuknya lemak jenuh, tetapi juga mengurangi beban berat organ cerna, terutama pankreas, liver, ginjal, karena kombinasi protein-lemak tinggi dalam makanan hewani sangat berat proses cernanya dan menguras banyak cairan tubuh. Selain itu, membatasi asupan makanan hewani juga menghemat habisnya stok enzim tubuh – dalam tubuh kita, enzim berperan seperti “tukang bangunan”, sehingga percuma Anda mengasup cukup kalori dan nutrisi vitamin-mineral [ibarat “bahan bangunan”] jika tidak cukup mengasup enzim. 

Mulai hari ini, mari kita makan enak dengan pemahaman-dan-kesadaran …

Image