Meningkatkan Suhu Tubuh, Meyembuhkan Penyakit

Dikutip dari buku Mukjizat Suhu Tubuh-nya Masashi Saoto, penerbit Gramedia Pustaka Utama

“Hipotermia merupakan kondisi sangat berbahaya, yang bila dibiarkan akan mengundang macam-macam penyakit. ..

Suhu tubuh 37 oC tanpa disertai rasa lesu, nyeri, dan rasa tak enak lainnya, bukanlah demam ringan, melainkan suhu tubuh yang sehat. …

Jika suhu tubuh turun 1 oC, daya tahan tubuh berkurang 30%. … Naiknya suhu tubuh sebanyak 1 oC, akan meningkatkan daya tahan tubuh naik 500-600%.

Sel-sel kanker paling aktif dan bertambah banyak dalam kondisi hipotermia, yakni suhu tubuh sekitar 35 oC. … Di antara penderita kanker, banyak yang bersuhu tubuh rendah. Pada suhu tubuh rendah, laju perkembangbiakan sel-sel kanker juga meningkat. … Meningkatkan suhu tubuh juga baik untuk orang yang telanjur terkena kanker.

ULASAN WIED HARRY:
Bagaimana agar badan kita memiliki suhu tubuh sehat? Menjalankan pola makan enak-sehat-alami Food Combining (FC) secara konsisten dan disiplin, itu sudah pasti. Tapi selalu imbangi dengan BERGERAK, BERGERAK, BERGERAK. Jangan pernah lalai untuk BERGERAK. Yoga, taichi, aerobik, bahkan rajin jalan kaki pun cukup. Atau, para Sahabat Sehat mau gabung olahraga yang lagi hip saat ini: street workout? Yuk kita ‘gelantungan’ di bar. Tiang besi jemuran dapat digunakan, bahkan kusen pintu pun bisa. Saatnya untuk mencoret segala macam alasan yang membuat kita malas bergerak.

Menurut Masashi Saito, olahraga untuk menaikkan suhu tubuh yang memberikan manfaat meningkatkan kesehatan ada dua macam: olahraga aerobik dan olahraga anaerobik. Patokan gampangnya, olahraga aerobik menguras banyak energi, sedangkan olahraga anaerobik memperkuat otot – meskipun kenyataannya tidak dapat dibedakan secara tegas demikian. Contoh olahraga aerobik: lari, jalan cepat, senam aerobik, dll. Contoh olahraga anaerobik: angkat beban, squad (jongkok-berdiri), push up, nge-bar (street workout), dll. Menurut saya pribadi, mestinya naik-turun tangga, bahkan yoga maupun taichi, memiliki efek aerobik maupun anaerobik.

Yuk kita makin sering BERGERAK!

 Image

Advertisements

Kelompok Makanan Pemicu Kanker

Sumber: Buku The Miracle of Raw Food, Penulis Prof. Dr. Hwang Sung-Joo, MD, PhD, Penerbit Qanita

“Kita adalah apa yang kita makan. Makanan yang kita telan adalah persoalan yang teramat penting. Struktur tubuh kita sangat cocok dengan makanan mentah, misalnya salad. Namun, budaya makan kita justru memilih yang sebaliknya. Maka, kita harus kembali pada pola makan alami.

Terkadang, beberapa orang pasien meminta pemeriksaan gen kanker. Persoalan ini selalu menimbulkan kembimbangan. Pada kenyataannya, “kanker aktif” ada di dalam tubuh setiap orang, dan apabila kita mengetahuinya, kita mungkin akan dilanda kekhawatiran berlebihan. Belakangan ini, tidak banyak pasien yang menginginkan pemeriksaan tersebut. Mereka pikir, ada baiknya tidak tahu sama sekali.

Namun, pemeriksaan ini tetap memberikan manfaat. Dengan mengetahuinya sedini mungkin, kita dapat melakukan upaya pencegahan sebelum kanker di dalam tubuh kita tumbuh tak terkendali. Apabila faktor-faktor pemicu kanker sudah terlihat, separti gejala over-methylation, kita harus menganggapnya sebagai sinyal peringatan. Gejala ini terkadang dapat hilang hanya dengan meningkatkan kualitas pola makan. Fakta tersebut membuat saya menyadari betapa besar dan pentingnya pengaruh pola makan dalam memicu munculnya kanker. Perkembangan sel-sel kanker dapat dipicu atau dihambat, bergantung pada pola makan kita.”

ULASAN WIED HARRY:
Cuplikan bab di atas tidak secara eksplisit menjelaskan makanan apa saja yang memicu kanker dan yang mencegah kemunculan kanker.

Kelompok makanan pemicu kanker:
Daging/ayam, susu, gula dan turunannya (sirup, permen, dll) – termasuk konsumsi pati berlebihan (nasi dkk), tepung – khususnya tepung terigu, lemak/minyak – apalagi yang telah dipanaskan dan/atau dibekukan tidak dengan cara alami, semua makanan-minuman-bumbu komersial pabrikan/olahan/kemasan/kalengan/instan/sejenisnya, semua makanan-minuman-bumbu yang dibubuhi bahan tambahan sintetis

Kelompok makanan pencegah/pengendali kanker:
Makanan asal tumbuhan (plant-based foods), terutama dikonsumsi mentah (raw food), di antaranya aneka sayur-sayuran dan buah-buahan berwarna-warni (hijau tua, hijau muda, merah, jingga, kuning, ungu, putih, dll), kacang-kacangan dan biji-bijian (kenari, kacang mete, biji bunga matahari, wijen putih/hitam, dll), aneka bumbu dan rempah segar (bawang merah, bawang putih, daun bawang, seledri, cabai, dll)

kelompok makanan

Keliru, Menggunakan Obat Penurun Panas Saat Demam

Dikutip dari buku ‘Mukjizat Suhu Tubuh’. Penulis: Masashi Saito. Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

“Tidak terbatas hanya ketika kita terserang flu, “menghangatkan badan” merupakan cara sehat yang baik dilakukan setiap saat.

Ketika saya kecil, jika terserang demam dan tidak enak badan, saya pasti disuruh mengenakan 2 helai celana dalam (CD). Jika saya bersin2, batuk, dan menunjukkan gejala terkena flu, nenek bukannya memberikan obat flu, melainkan CD. Jika dipikirkan sekarang (setelah menjadi dokter), saya mengerti bahwa mengenakan 2 CD maksudnya untuk menghangatkan badan.

Tidak hanya dengan melapis CD, boleh juga dengan cara mandi berendam di air hangat, memakai kantong penghangat kecil (kairo), atau memakai botol air panas (yutanpo) pun boleh saja. Yang penting, pada kondisi tubuh kurang fit, upayakan untuk menghangatkan tubuh.

Tetapi banyak orang yang malah melakukan sebaliknya. Contohnya, minum obat flu. … hindarilah langsung minum obat flu, karena itu itu tidak baik bagi tubuh Anda.

Obat flu umumnya bukan untuk menaklukkan virus penyebab flu, melainkan gabungan berbagai macam komposisi obat2an untuk meringankan gejala penyakit. Kebanyakan komposisi obat tersebut menekan kerja saraf parasimpatik dan merangsang saraf simpatik.

Oleh karena itu, jika orang yang sedang kelelahan karena bekerja minum obat flu, peredaran darahnya yang sudah tidak begitu baik malah jadi makin memburuk. Kondisi ini memicu penurunan suhu tubuh (suhu tubuh rendah) dan berisiko menurunkan daya tahan tubuh.

Lebih buruk lagi dari obat flu adalah “obat analgesic antipiretik” (analgesic = pereda nyeri/rasa sakit, anitipiretik = penurun demam). Kebanyakan obat analgesic antipiretik bersifat meningkatkan kinerja saraf simpatik. Tetapi risikonya bukan cuma itu saja. Bahaya obat itu (sesuai namanya) yaitu menurunkan suhu tubuh.

Orang yang se-hari2 bersuhu tubuh rendah dan lemah terhadap demam, bisa saja merasakan lesu dan meriang berat pada suhu tubuh 37oC, sehingga menomorsatukan minum obat penurun demam. Padahal, panas tersebut dibutuhkan untuk meningkatkan daya tahan tubuh guna bertarung melawan virus. Menurunkan demam dengan obat penurun panas merupakan perbuatan keliru, karena menghambat sistem kekebalan tubuh. Inilah sebabnya dokter yang betul2 paham akan risiko obat penurun panas tidak dengan mudah meresepkannya.

Orang yang kurang kuat fisiknya, seperti lansia, adakalanya memerlukan obat penurun panas pada sekitar suhu 38,2 oC. Obat penurun panas yang diberikan pada saat itu adalah jenis yang paling tidak membebani tubuh, yaitu asetaminofen, disesuaikan dosisnya sambil melihat perkembangan pasien, serta diberikan dengan hati2 agar suhu tubuh bertahan pada kisaran 37 oC. … Oleh karena itu, jangan sembarangan minum obat, sekalipun itu obat2an bebas.

Saat ini di AS, jarang sekali dokter meresepkan obat untuk gejala awal flu. Saya sendiri, sebagai dokter, jika terserang flu bukannya minum obat, hanya minum (suplemen) vitamin C dan magnesium. .. Alasannya, vitamin C bekerja paling efektif saat bersama-sama golongan bioflavonoid, kalsium, dan magnesium. Selain itu, magnesium cenderung kurang dapat diambil dari makanan se-hari2, sehingga baik dikonsumsi bersama untuk menggiatkan daya kerja vitamin C.”

ULASAN WIED HARRY:
Membandingkan dengan kebiasaan keluarga Dr. Masashi Saito, kebiasaan keluarga kami pun serupa. Tiap kali kami yang saat itu masih kanak2 mengalami gejala2 akan menderita flu (bersin2, kurang enak badan – “greges2” panas-dingin), ibu kami selalu memberi kami minuman wedang jahe panas. Air seduhan jahe ini harus diminum ketika masih setengah panas atau setelah hangat, tidak boleh diminum setelah dingin.

Nah, kearifan lokal seperti ini saya yakin juga dilakukan masyarakat Indonesia di banyak daerah lainnya untuk menangkal flu, misalnya mungkin di Jawa Barat masyarakat biasa memberikan bandrek atau lebih banyak minum sarabba’ jika di Sulawesi Selatan. Baik bandrek maupun sarabba’ adalah jenis minuman panas (Jawa: wedang) terbuat dari bahan utama jahe dan gula merah.

Dalam jahe terdapat senyawa utama gingerol, yang bersifat menghangatkan. Baik wedang jahe, bandrek, maupun sarabba’ bisa saja “diperkaya” dengan bahan2 bumbu rimpang (empon2) atau rempah2 lainnya, misalnya lengkuas, merica/lada, cengkih, kapulaga, dll. Dan nyatanya, sebagian bahan2 yang ditambahkan ini pun banyak mengandung senyawa aktif “zat pedas” yang bersifat menghangatkan, di antaranya merica/lada berlimpah piperin, cengkih banyak mengandung eugenol dan metil salisilat (yang ini bersifat sebagai pereda nyeri alami), lengkuas kaya akan galangol.

Dan biasanya kalau badan “greges2” mau flu, kita terdorong untuk mengenakan pakaian yang lebih tebal. Bila perlu, masih ditambah dengan “ubel2” di leher seperti yang di foto itu – tentu maksudnya bukan supaya gaya deh, tetapi supaya tubuh menjadi lebih hangat. Zaman kami kecil dulu, ibu kami juga mewajibkan kami mandi air hangat sambil “wuwung” (mengguyur kepala di bagian ubun2 dengan air hangat sambil “di-pyok2” alias di-tepuk2 ringan). Usai mandi, biasanya kami diberi makanan panas yang sedappp, seringnya nasi + sup atau nasi + gulai/kare! Memang betul sih, kombinasi ini cukup mujarab, karena ketika bangun tidur esok harinya badan sudah terasa fit. Tidak ada lagi bersin2 …

Nah, setelah saya tekun menjalani pola makan enak-sehat-alami Food Combining, jika mengalami hal seperti ini otomatis tubuh saya “menolak” makan. Secara alami, mulut hanya menagih diisi buah2an segar dan sayur2an segar sepanjang hari dan bisa berlangsung beberapa hari. Biasanya yang bikin saya sowaq begini adalah jika saya bergabung pada acara orang lain selama beberapa hari, misalnya wisata bareng. [Kebayang dong makannya pasti amburadul! Sebetapapun saya sudah berusaha makan sesehat dan sealami mungkin – bahkan seringkali bawa bekal tomat, paprika, timun, dan buah2an segala, biasanya masih terasa terlalu nakal untuk tubuh saya yang berprinsip “lebih baik seminggu ga ketemu nasi, daripada sehari ga ketemu buah2an dan sayur2an segar”.

Biasanya, beres acara pasti tubuh saya memberikan sinyal: bersin2 parah! plus tenggorokan kering (gara2 kebanyakan terasup MSG). Kalau sudah begini, langsung saya gelontor dengan ber-jerigen2 – hehe engga ding, yang bener adalah ber-mug2 – jus sayuran. Jus sayuran biasanya dari kombinasi caisim, wortel, tomat, dengan/tanpa timun – karena memang sayuran ini yang pasti ada stoknya dalam lemari es, plus tambahan air jeruk lemon. Jus sayuran ini saya minum sesering yang saya suka. Esoknya, gejala flu pasti sudah tak ada jejaknya. Nah, kalau dianalisis, jus sayur campur ini sesuai dengan kebiasaan Dr. Masashi Saito minum suplemen vitamin C dan magnesium, karena zat2 tersebut juga banyak terkandung dalam jus sayuran.

Bagaimana dengan kebiasaan Anda, para Sahabat Sehat? Boleh berbagi cerita.

Image

Banyak Gula = Ingin Cepat Mati

Sumber: Buku ‘Makan Sekali Sehari: Membuat 20 Tahun Lebih Muda’, Penulis: Dr. Yoshinori Nagumo, Penerbit: Qanita
*** Judul tulisan ini sesuai yang tercantum dalam buku ***

“… Kita sebaiknya makan setelah merasa sangat lapar. Namun umumnya orang makan ketika tiba waktu makan, meskipun tidak merasa lapar. Pada hari libur, kita mungkin makan lebih lambat daripada biasanya, lalu makan siang pada tengah hari, kemudian masih menyantap camilan sambil minum teh pada pukul 3 sore. Pada zaman dulu masyarakat Jepang memang mengenal kebiasaan minum teh saat beristirahat dari pekerjaan di ladang. Namun kebiasaan menyantap camilan sambil minum teh pada pukul 3 sore adalah budaya Inggris.

CAMILAN adalah makanan untuk anak-anak, bukan untuk orang dewasa. Gizi dalam camilan untuk anak-anak hanya diberikan sebagai penunjang pertumbuhan, bukan sebagai sumber energi. Jika dikonsumsi anak-anak, makanan tersebut tidak akan “tersisa di dalam tubuh” sehingga tidak menjadi masalah.

Ketika saya masih kanak-kanak, makanan yang disebut camilan adalah ubi, jagung, semangka, dan sejenisnya. Dahulu belum ada makanan ringan kemasan seperti sekarang. Sekarang, makanan yang disebut camilan adalah makanan olahan yang manis. Setelah memakan roti yang sangat manis, tubuh kita akan terasa panas dan mengantuk. Artinya, gula darah kita meningkat.

Tahukah Anda bahwa gula membuat tubuh kita cepat tua?

Anda mungkin telah mengetahui dampak negatif rokok bagi kesehatan, tetapi tahukah Anda bahwa dampak negatif gula lebih buruk lagi?

Mengonsumsi makanan/minuman manis dapat membuat GULA DARAH kita melebihi 140 mg/dl. Dampak negatif kadar gula darah setinggi itu setara dengan dampak yang harus ditanggung tubuh apabila seseorang mengisap 4 batang rokok. Sel-sel dalam pembuluh darah akan rusak akibat sifat racun gula. Racun itulah yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah, stroke, dan penyakit jantung koroner; serta dapat menambah timbunan lemak pada organ tubuh. Selain itu, gula juga dapat menaikkan kadar kolesterol darah. Karena kolesterol berhubungan dengan hormon seksual, pengaruhnya akan langsung terasa. Peningkatan kadar kolesterol dapat meningkatkan risiko timbulnya kanker payudara pada wanita yang telah memasuki masa menopause.

Organ tubuh pertama yang akan merasakan dampak negatif tingginya kadar gula darah adalah PANKREAS. Sel-sel Langerhans-beta dalam pankreas akan terganggu. Sel-sel ini adalah pabrik INSULIN, suatu hormon yang bertugas mengubah glukosa menjadi energi.

Jika insulin bekerja dengan baik, kadar gula darah akan menurun; tetapi sebagai gantinya, tubuh menjadi gemuk. Penyakit kencing manis (diabetes mellitus) terjadi karena insulin tidak dapat bekerja dengan baik – yang pada gilirannya akan mengakibatkan kerusakan sel-sel Langerhans – sehingga badan tidak dapat menjadi gemuk walaupun mendapatkan asupan gizi dalam jumlah besar. Hal ini menunjukkan bahwa diabetes mellitus berdampak pada kegagalan fungsi sistem pencernaan.
….
Pada zaman dulu, makanan yang disebut jajanan adalah buah-buahan atau kue-kue tradisional yang pada umumnya terbuat dari pati, salah satu jenis karbohidrat yang diserap dengan lambat oleh tubuh. Wajar saja jika kakek dan nenek kita mungkin tidak mengenal penyakit kencing manis kendati orang-orang pada zaman dulu itu mahir membuat kue. …

Beberapa orang berpikir “tidak apa-apa jika hanya sedikit”. Walaupun hanya sedikit, makanan manis tetap dapat meningkatkan kadar gula darah. Apabila Anda ingin menikmati makanan manis, pilihlah makanan yang terbuat dari pati, seperti ubi, jagung, beras, …; dan akan lebih baik lagi apabila makanan itu dikunyah terlebih dulu dengan seksama. Enzim amilase yang terdapat dalam air liur akan membantu pencernaan dengan mengubah pati menjadi gula.”

ULASAN WIED HARRY:
Yang paling mendesak dilakukan adalah mengubah pola pikir bahwa sumber rasa manis tidak harus gula. Disiplinkan diri melakukan Food Combining (FC), nikmati dan puaskan diri dengan rasa manis alami beragam buah-buahan segar lokal – pepaya, nanas, rambutan, manggis, sirsak, semangka, melon, dll – sepanjang pagi hingga siang hari, sehingga tubuh tidak perlu lagi menagih rasa manis gula.

Selain terjadi pada diri saya sendiri, banyak testimoni para Sahabat Sehat pelaku FC yang setelah disiplin menjalankan FC justru menjadi tidak merasa nyaman dengan mengonsumsi makanan-minuman manis seperti kolak, es campur, donat isi selai, apalagi yang rasa manisnya “kebangetan”. Sebenarnya ini wajar, karena sinyal alami tubuh akan bekerja dengan sensitivitas tinggi menunjukkan ambang indra perasa kita setelah tubuh terdetoks (lantaran sekian lama melakukan FC). Sebaliknya, jika kita mengklaim diri telah ber-FC tetapi hasrat menikmati rasa manis gula ternyata masih menggebu, besar kemungkinan FC yang kita lakukan belum benar.

Jika pun terpaksa harus menyajikan hidangan manis, batasi rasa manisnya hingga serendah mungkin sampai batas kenikmatan daya terima kita. Utamakan jajanan tradisional, tanpa tambahan bahan-bahan sintetis. Mengapa sebaiknya kita mengutamakan jajanan tradisional (dan buah-buahan segar lokal)?

Karena jajanan tradisional umumnya terbuat dari pati dan masih dekat dengan bentuk alaminya – contohnya getuk singkong, pisang kukus, apem tepung beras -, sehingga lebih bersahabat dengan enzim tubuh. Alasan lain jajanan tradisional dan buah lokal lebih baik bagi kita adalah karena jajanan tradisional umumnya terbuat dari bahan pangan lokal dan semua pangan lokal mengandung ikatan karbon serupa dengan ikatan karbon dalam tubuh manusia yang hidup di sekitarnya.

Makanan terbuat dari bahan-bahan yang sudah jauh dari bentuk alaminya, apalagi dibubuhi bahan-bahan sintetis, menguras enzim tubuh dan meningkatkan risiko peradangan pada organ cerna terutama ginjal, hati, pankreas, yang akan meningkatkan risiko penyakit akibat gangguan pada organ-organ tersebut beserta komplikasinya.

Image