Apakah Anda Perlu Detoks?

Sumber: Buku The Detox Lifestyle: Natural Ways To Be Healthy, Riani Susanto ND CT, Penerbit Trubus

Jawablah dengan jujur pertanyaan berikut. Jika Anda menjawab “ya” minimal 3, maka Anda harus mempertimbangkan untuk melakukan detoks.
1. Apakah Anda kelebihan berat badan atau cenderung kelebihan makan?
2. Apakah Anda menderita sembelit (BAB lebih lama dari setiap 24 jam) atau masalah pencernaan lainnya?
3. Apakah Anda terus-menerus merasa lelah dan selalu ingin istirahat?
4. Apakah Anda menderita sakit kepala atau sakit pada bagian lain?
5. Apakah Anda menderita alergi makanan atau lingkungan?
6. Apakah Anda sering makan makanan instan, fast food, atau gorengan?
7. Apakah Anda secara rutin minum obat-obatan farmasi yang diresepkan atau obat-obatan yang dijual bebas?

PENELITIAN TERAKHIR dalam bidang pengetahuan biokimia menunjukkan bahwa beberapa penyakit kronis pada mereka yang berada pada usia lebih tua, dapat ditunda atau bahkan dihindari dengan melakukan detoks(ifikasi) dan gaya hidup organik.

SUKSES DENGAN DETOKS
*Dari 100 orang penderita berbagai jenis kanker, 70% dapat menyembuhkan dirinya sendiri, 20% tidak mampu menjalani program detoks, dan 10% sudah terlalu parah penyakitnya atau tidak kuat hidup lagi.
*Salah satu hal tersulit dalam program detoks adalah pikiran kebanyakan orang bahwa hidup untuk makan. Kini cobalah berpikir makan untuk hidup.
*”Anda adalah apa yang Anda makan”, “Anda adalah apa yang Anda serap”, “Anda adalah apa yang Anda pikir”, atau lebih mudahnya dapat disimpulkan “What you eat has a direct affect upon your health”, karena apa yang kita makan akan memberikan efek langsung pada kesehatan.

Image

Advertisements

Daging Dan Telur: Sungguh Baikkah Untuk Tubuh Kita?

Sumber: Buku pH Miracle, Robert O. Young, PhD DSc dan Shelley Redford Young, LMT
Penulisan huruf tebal/kapital sesuai aslinya.

Seperti produk olahan susu, semua produk hewan – yakni daging [sapi, domba, babi, ayam, kalkun, dsb] dan telur penuh dengan hormone, pestisida, steroid, antibiotik, mikroba, mikotoksin, dan lemak jenuh yang berkontribusi terhadap penyakit jantung, stroke, dan kanker. [Sementara lemak itu sendiri juga bagian dari masalah, karena dalam lemak-lah seluruh zat racun bersarang.] Dan daging maupun telur bersifat sangat asam [sebagai pembentuk asam tinggi] dalam tubuh kita.

ADA KORELASI KUAT ANTARA PROTEIN HEWANI DENGAN BEBERAPA JENIS KANKER, TERUTAMA KANKER PAYUDARA, KANKER TIROID, KANKER PROSTAT, KANKER PANKREAS, KANKER ENDOMETRIUM, KANKER OVARIUM, KANKER PERUT, DAN KANKER USUS BESAR. Disebutkan bahwa orang yang mengonsumsi 70% protein dari makanan hewani memiliki masalah kesehatan lebih besar dibandingkan yang hanya 5%. Mereka berisiko 17 kali mendapatkan kematian akibat penyakit jantung dan berisiko 5 kali lebih tinggi mendapatkan kanker payudara [untuk perempuan].

Mengonsumsi telur terkait dengan meningkatnya risiko kanker usus besar. Ini tidak mengejutkan, karena telur berasal dari ayam yang diberi pakan biji-bijian yang umumnya sudah mengandung mikotoksin [zat racun berasal dari kapang/”jamur” yang tumbuh pada pakan]. Lima belas menit setelah makan telur, terlihat adanya peningkatan jumlah bakteri dalam darah kita. Studi di Australia juga menunjukkan hubungan yang positif antara konsumsi telur dengan kanker usus besar; serta kaitan kanker usus besar dengan daging ternak, hati, produk susu, dan unggas. Dalam penelitian lain disebutkan unggas, ham, daging asap, sosis meningkatkan risiko kanker tiroid; sama seperti keju.

Jenis lemak hewan yang dikonsumsi juga memengaruhi munculnya jenis kanker, khususnya kanker endometrium, kanker ovarium [indung telur], dan kanker lambung. Para responden dalam penelitian tersebutnya umumnya makan lebih banyak daging asap dan ham, sering memasak menggunakan mentega, dan minum lebih banyak susu. Dalam penelitian lain di Swedia disebutkan mengonsumsi lebih banyak daging goreng maupun panggang berhubungan dengan risiko tinggi menderita kanker pankreas. [Risiko tinggi kanker pankreas juga ditemukan pada responden dengan kebiasaan mengonsumsi roti oles margarin! Fakta ini untuk mengingatkan kita bahwa hanya dengan menjadi vegetarian saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah.] Nutrisi apa pun yang ada dalam makanan hewani tidak sebanding dengan risiko yang kita dapat. Belum lagi energi tubuh yang terkuras untuk mencernanya dan menyerap nutrisinya.

SECARA ANATOMIS DAN FISIOLOGIS, MANUSIA TIDAK DIRANCANG UNTUK MENJADI KARNIVORA [PEMAKAN BINATANG] ATAU OMNIVORA [PEMAKAN TUMBUHAN DAN JUGA BINATANG]. Saluran pencernaan manusia yang panjang dan rumit dirancang untuk penyerapan yang lambat dan stabil terhadap berbagai makanan. Karnivora [binatang pemakan daging] memiliki usus pendek dan sederhana, yang memungkinkan makanan hewani mati melewatinya dalam waktu singkat. Mikroorganisme usus hewan pemakan daging juga berbeda dari manusia. Di sisi lain, pencernaan karbohidrat pada manusia cukup rumit, sedangkan karnivora hanya makan sedikit karbohidrat atau tidak sama sekali. Jika manusia itu karnivora, kita akan berkeringat melalui lidah kita, bukan kulit kita. Pemakan daging memiliki gigi dan rahang yang dirancang untuk merobek-robek binatang hasil buruan, sedangkan kita mengatasinya dengan bantuan tangan kita. Belum lagi fakta bahwa kita tidak mendapatkan nutrisi yang terkandung dalam bulu, organ, dan tulang makanan hewani, sebagaimana yang didapat oleh karnivora sejati. … Manusia dirancang untuk menjadi vegetarian, dan tubuh kita tidak akan bekerja sebaik-baiknya jika kita tetap memaksanya untuk melakukan sesuatu yang tubuh kita tidak sanggup tangani.

ULASAN WIED HARRY:
Ternyata, tubuh kita memiliki kemampuan terbatas mencerna makanan hewani. Selain itu, dalam makanan hewani tersimpan banyak zat merugikan bagi kesehatan tubuh kita, terlebih karena kandungan lemaknya dan oleh karena lemak itu pula sebagai media “bersarangnya” zat toksin. Karena itu, sebaiknya batasi konsumsi makanan hewani atau hindari sama sekali, perbanyak mengonsumsi pangan nabati, terutama pangan pembentuk basa/alkali – khususnya sayur-sayuran segar mentah dan buah-buahan segar. Protein nabati bisa dicukupi terutama dari polong-polongan [kacang merah, kacang hijau, kacang tolo, kedelai putih/hitam, tempe, tahu] dan sayur-sayuran hijau [brokoli, bayam, kangkung, kacang panjang, buncis, dll]. Contoh pola makan dengan konsumsi makanan hewani terbatas adalah Food Combining [FC]. Contoh pola makanan tanpa asupan makanan hewani adalah vegetarian dan vegan [vegetarian “kenceng”].

Secara bertahap, anggarkan dana belanja untuk mendapatkan pangan organik, terutama yang paling banyak dikonsumsi oleh keluarga, seperti beras, tempe/tahu, serta sayur-sayuran dan buah-buahan tertentu favorit keluarga. Pangan organik tidak harus yang secara tegas berlabel organik, karena masih cukup banyak pangan di pasar tradisional yang dipastikan masih tumbuh atau ditanam secara organik [tanpa semprotan pestisida, pemberian hormon tumbuh, maupun pemupukan kimiawi sintetis]. Contohnya terutama buah-sayuran lokal, khususnya yang tidak/kurang populer, seperti sirsak, menteng, bisbol, srikaya, daun pakis, daun katuk, daun melinjo, daun mengkudu, dll. [Jangan mengeluh pangan organik itu mahal, jika Anda sama sekali tidak pernah mengeluh ketika merogoh kocek untuk membayar fast food atau nonton bioskop!]

daing n telur