Pubertas Dini VS Kanker

Sumber: Buku The Hallelujah Diet, DR. George Malkmus

“Joel Fuhrmnan, M.D. penulis buku Eat to Live, mencatat adanya sebuah korelasi antara usia mulai puber dan jenis-jenis kanker:
Kita tahu melalui penelitian bertahun-tahun bahwa semakin cepat hewan tumbuh dan dewasa, semakin cepat mereka akan mati. Ini mempercepat proses penuaan. Hewan-hewan yang diberi makan dengan kalori lebih sedikit mengalami penuaan yang lebih lambat dan hidup lebih lama. Sehingga, kita tidak ingin mempercepat pertumbuhan anak-anak kita.
Seratus tahun yang lalu, usia rata-rata awal pubertas adalah sekitar 17 tahun, di seluruh dunia. Kini di Amerika, usia rata-ratanya adalah 12 tahun dan semakin bertambah muda tahun-tahun terakhir, dengan makin banyaknya anak yang mengalami pubertas di usia 8, 9, dan 10 tahun. Pada anak-anak perempuan telah ditetapkan dalam literatur ilmiah bahwa semakin muda usia pubertas, semakin besar risiko kanker payudara yang harus dihadapi.

Dan juga, data terkini dari Harvard University menunjukkan ketika pola makan perempuan rendah lemak hewan atau bila mereka sama sekali tidak mengonsumsi hewan, maka kanker payudara semakin tidak mungkin terjadi.
Bagi pria, tampaknya perubahan pola makan sama berpengaruhnya. Di sini, kita melihat manfaat-manfaat khusus bukan hanya dengan menghindari daging, tetapi juga dengan menghindari produk-produk susu. Sejumlah bukti yang substansial [Wied Harry: substansial = sangat kuat, sangat meyakinkan] menunjukkan bahwa dengan menghindari produk-produk susu dapat menurunkan risiko kanker prostat hingga ke tingkat yang sangat substansial [Wied Harry: substansial = sangat rendah].”

ULASAN WIED HARRY:
Meringkas tulisan di atas, kunci menghindari pubertas dini, dalam kaitannya dengan risiko besar menderita kanker, pada anak-anak kita adalah membatasi/menghindari:
1. Lemak hewan – termasuk makanan hewani berlemak banyak. Contohnya: gajih, kulit ayam, daging berlemak (a.l. sandung lamur), ayam ras, daging hewan tertentu yang secara spesifik tinggi lemak -baik lemak tampak/visible fat maupun lemak tersembunyi/invisible fat- seperti daging babi
2. Produk susu, yakni semua jenis susu (sapi) komersial/industri/kemasan

SARAN WIED HARRY:
Anak-anak sebaiknya rakus mengonsumsi aneka buah-buahan segar. Rangsang dan dukung anak-anak kita untuk lebih menyukai dan semakin menyukai sayuran – termasuk sayuran mentah, terutama yang organik. Contoh sayuran mentah yang mudah disukai anak-anak adalah tomat (asam segar), baby carrot (manis), paprika merah (manis).

Image

Advertisements

Industri Makanan Kita

Sumber: Buku *Anda Tidak Perlu Sakit* – Cara Sehat Dr. Handrawan Nadesul, hal. 268, Penerbit Buku Kompas

MSG LAGI, MSG LAGI

“Dulu pemakaian penyedap masakan menggunakan takaran terbuat dari kayu ramping layaknya sendok es krim, dengan tujuan agar takaran tidak berlebihan. Sekarang dengan leluasa menuang langsung dari kantung kemasan, atau dengan sendok makan.

Padahal, sudah banyak bukti kelebihan penyedap untuk waktu lama mencetuskan kanker. Sampai sekarang takaran penyedap di restoran, mi bakso, soto, dan sejenisnya lipatan kali dosis yang aman dari ancaman kanker dan tidak mendapat peringatan.”

ULASAN WIED HARRY:
Pro-kontra penggunaan produk MSG adalah hal wajar, terlebih karena ini menyangkut kepentingan bisnis. Para ilmuwan yang pro menyebutkan produk MSG aman, asal dikonsumsi dalam batas wajar. Nah, sayangnya batas wajarnya itu seberapa bisa kita patuhi jika nyaris semua makanan saat ini sudah dibubuhi produk MSG?

Sejak beberapa waktu lalu, saya pribadi berkeputusan untuk tidak lagi terlibat dalam “debat produk MSG”. Bagi saya, lebih penting mengajak masyarakat membelanjakan uangnya untuk membeli bahan-bahan makanan dan bumbu alami yang kaya dengan MSG alami. Sebab, bahan-bahan tersebut juga kaya dengan serat dan nutrisi, dibanding produk MSG yang tidak mengandung apa pun.

Semua bahan yang lazim digunakan oleh nenek dan ibu kita untuk membuat kaldu, kaya MSG alami. Contoh bahan kaya MSG alami untuk kaldu hewani: ayam, ikan, daging [termasuk tulang-tulangnya]; udang [termasuk kulitnya]. Contoh bahan kaya MSG alami untuk kaldu nabati: tomat, bawang bombai, seledri, daun bawang, wortel. Bahan-bahan makanan lain dan bumbu yang berlimpah MSG alami adalah bawang merah, bawang putih, tempe, taoco, terasi, ebi, rebon/impun, dll.

Satu hal lagi, penyebutan produk MSG dengan nama dagang “penyedap masakan” adalah trik untuk memenjarakan pikiran kita agar meyakini bahwa tanpa produk tersebut masakan kita tidak sedap. Sejak sekarang, lepaskan pikiran itu! Yuk kita gunakan hanya MSG alami dalam bahan-bahan makanan dan bumbu alami … Lebih hemat, lebih sehat! Masakan dijamin lezat!

Image