Penuaan Dini: Mencegahnya Dengan Nutrisi Yang Benar

Dikutip dari buku Sehat Sejati Yang Kodrati, Dr. Tan Shot Yen, M.Hum, hal. 211-13

“Belakangan ini sudah banyak orang fasih menyebut istilah pola makan ‘sehat seimbang’. Tapi akhirnya bingung sendiri dengan terminologi indah itu. Sehat yg seperti apa? Sehat versi siapa? Seimbang apanya?

Ketika teknologi industri, transportasi, dan informasi berjalan di atas jalur super-cepat, imbas ke dunia pangan pun muncul. Istilah kepraktisan mengonsumsi makanan dan kecepatan saji menjadi prioritas yg perlu diperhitungkan. Pertambahan populasi dan ketersediaan pangan dari alam pun semakin memberi nilai krisis. Masalah muncul bukan hanya sebatas ketidakseimbangan jumlah ‘yg makan’ dan ‘yg dimakan’, tapi juga kerusakan alam akibat perbuatan manusia sehingga muncul krisis baru. Merasa tidak pernah cukup dan selalu menuntut lebih dari alam menjadikan manusia memperlakukan alam sebagai objek eksploitasi dan bagian terpisah dari kehidupan manusia itu sendiri. 

Pilihan jenis karbohidrat, misalnya, pada usia tumbuh kembang dan remaja tidak mungkin sama dengan usia dewasa apalagi usia lanjut. Tapi yg terjadi di Indonesia: bila anak SD makan nasi 5 sendok makan, maka ayahnya atau kakeknya harus makan 3 kali lebih banyak dari 5 sendok makan. Asumsinya adalah tubuh ayah dan kakek lebih besar, jadi butuh ‘lebih banyak nasi’. Padahal kakek dan ayah sudah berada di usia ketika penyakit degeneratif mulai menampakkan diri dan risiko penuaan dini muncul. 

Formulasi tentang sumber karbohidrat dan pendayagunaannya, misalnya, sudah lama mengalami stagnasi. Pengetahuan tentang nilai kualitatif karbohidrat saja baru dimulai tahun 1981 (Jenkins and Wolever) yang merupakan awal penelitian tentang indeks glikemik. Sedangkan penelitian kualitatif protein sudah dikerjakan sejak 1919 (Osborne and Mendel) dan lemak pada tahun 1932 (Burr and Burr). 

Publik dan bahkan para pakar sudah begitu lama terfokus pada hukum piramida makanan yg tak tergoyahkan. Ada keengganan untuk merevisi kembali pandangan kualitatif tentang sumber karbohidrat yg sesuai untuk berbagai fase kehidupan manusia. Sekalipun dari sekian banyak penelitian terakhir menjelaskan bahwa KARBOHIDRAT TERBAIK YG LAYAK DIASUP MANUSIA PERLU MEMENUHI 5 KRITERIA: RENDAH INDEKS GLIKEMIK, TINGGI SERAT, KAYA ANTIOKSIDAN, BERSIFAT ALKALIS, dan MASIH POTENSIAL DENGAN ENZIM [WH: penulisan KAPITAL oleh Wied Harry]. Tak jarang produsen memanfaatkan klaim dari institusi kesehatan sebagai patokan bagi standar kesehatan yg akhirnya jadi sumber kerusakan fatal yg berlangsung dari generasi ke generasi.

Miskinnya pengetahuan dan sumber yg dapat dipercaya membuat masyarakat pun terperosok dalam masalah yg lebih besar lagi. Salah satu contoh paling populer adalah istilah produk gandum. Jargon ini bermula dari dunia Barat yg sudah meninggalkan produk rafinasi (refined foods). Namun ternyata tidak sepenuhnya demikian. Pada kenyataannya, roti gandum hanya sekadar nama. ROTI GANDUM YG ADA DI PASARAN 80% MASIH MEMPUNYAI CAMPURAN TEPUNG PUTIH YG SUDAH DIRACIK DENGAN ‘BAHAN ROTI’ – MULAI DARI PENGEMBANG, PELEMBUT, DAN PENGUAT RASA. GANDUM [WHOLE GRAINS] SUDAH KEHILANGAN MAKNANYA BEGITU MASUK MESIN OLAH, LALU LOYANG BERMARGARIN, MENJADI BISKUIT ATAU DIKUNYAH DENGAN TEH MANIS [WH: penulisan KAPITAL oleh Wied Harry].

Jika asupan bayi akhirnya perlu dikembalikan ke kodratnya, yakni ASI, maka barangkali fenomena ini merupakan teguran untuk berjuang kembali ke makanan asli – kalau mau sehat dengan cara kodrati. …”

ULASAN WIED HARRY:
Sumber karbohidrat terbaik bagi tubuh adalah yg memenuhi 5 kriteria [rendah indeks glikemik, tinggi serat, kaya antioksidan, bersifat alkalis, masih potensial dengan enzim]. Bahan makanan yg memenuhi kriteria tersebut adalah SAYUR-SAYURAN SEGAR MENTAH. Kecuali mengenyangkan, karena kaya serat tak tercerna, sayuran segar mentah juga menyediakan berlimpah antioksidan dan enzim penghambat penuaan. 

Makin banyak kita mengonsumsi makanan tidak alami [secara fisik jauh dari bentuk aslinya di alam], makin banyak kita mengeksploitasi alam, sehingga semakin besar pula andil kita mewariskan alam yg tidak bersahabat kepada anak-cucu kita. Jadi, mari lebih sering menikmati kudapan pisang kukus atau buah segar daripada pizza, cake, makanan kemasan, makanan cepat saji. Selain itu, makanan alami paling ramah dengan sistem metabolisme kita. 

Mau terus dengan kebiasaan makan amburadul selama ini atau mau berubah? Keputusan sepenuhnya ada di hati nurani kita masing-masing. Toh kesehatan bukan milik tetangga, tetapi … milik kita sendiri 

Foto: Istimewa

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s