Manusia Terus Memicu Kankernya Sendiri

Dikutip dari buku “Sehat Sejati Yang Kodrati” Dr. Tan Shot Yen, M.Hum., hlm. 295-7

Sangatlah wajar dlm kehidupan bila sel mengalami mutasi. Diperkirakan tubuh kita setiap detiknya memproduksi 50 juta sel baru (perhitungkan pula berapa juta yg rontok dan menua setiap harinya: meninggalkan tubuh). 

Error selagi membuat sel-sel baru menghasilkan sel yg mempunyai kerusakan DNA, si pembawa sifat sel itu. Sel-sel produk error ini bisa membelah diri dengan kecepatan lebih tinggi dan mereka tidak mati selayaknya sel lain. Rata-rata manusia menciptakan jutaan sel seperti itu (yg kemudian disebut sebagai ‘kanker’) setiap hari. Kabar baiknya, bila kita sehat maka tubuh mempunyai banyak sekali pertahanan alamiah untuk menghancurkan sel-sel tersebut. Biasanya tubuh mampu mengendalikannya. Sebelum kelompok sel ini bertingkah, sudah terlebih dahulu dibasmi.

Penyakit yg kita sebut kanker sebetulnya sekadar proses di mana keseimbangan alam di atas terganggu. Sel-sel yg bermutasi (mengalami keanehan itu) mulai tumbuh lebih cepat daripada kemampuan tubuh secara alamiah membasminya. Akhirnya, kumpulan sel ini membentuk massa yg kemudian disebut sebagai ‘tumor’ (benjolan yg tidak normal).

Biopsi (mengangkat sedikit jaringan untuk diperiksa di bawah mikroskop) bukan hanya penegas apakah massa disebut kanker atau tidak, tapi dengan mampunya seorang dokter melihat derajad diferensiasi (keanehan) error sel yg bisa dikategorikan berdiferensiasi ‘buruk’ atau ‘baik’. Ini artinya kita masih diberi peluang untuk memikirkan cara lain agar sel kembali berfungsi dan berbentuk normal dengan perbaikan gaya hidup. Namun apa yg terjadi? Peluang ini tidak pernah digunakan. Bahkan upaya memperbaiki pola makan dan gaya hidup dilecehkan, pun setelah operasi – serangkaian kemoterapi dan radiasi dijatuhkan sebagai vonis tanpa pilihan. 

John Herring, seorang kontributor senior Total Health Breaktrough seperti halnya beberapa dokter yg prihatin dengan gaya hidup masa kini, sangat menganjurkan manusia untuk berhenti meracuni diri. Sayangnya, kesadaran tentang ‘apa sih racun itu?’ masih sangat minim. Kita pikir apa yg kita anut selama ini sebagai pola makan sudah sehat, padahal kategori sehat itu sendiri ditentukan oleh orang lain yg mempunyai kepentingan tertentu. Kita pikir menghindari zat pengawet dan pewarna berarti sudah sehat, padahal setiap makan nasi dari padi penuh pestisida, menggoreng semua, menggunakan sabun berpewangi buatan, pengharum ruangan otomatis, segala macam jenis plastik kemasan makanan, pembunuh nyamuk super ampuh. Ironis, bukan?

Gula dalam makanan jangan hanya dipahami sebagai rasa manis. Pemahaman gula sudah saatnya diperdalam sebagai karbohidrat yg buruk, yg diasup tanpa sadar karena sudah dianggap makanan kebudayaan (padahal baru diturunkan 5-6 generasi)! Gula adalah makanan utama sel kanker dan kuat hubungannya dengan pertumbuhan kanker payudara, ovarium, rektum, pankreas, paru-paru, empedu, dan lambung. 

ULASAN WIED HARRY:
Selain gula, makanan-minuman lain (calon) sahabat kanker adalah produk susu, daging, makanan-minuman-bumbu kalengan/botolan/kemasan/instan/sejenisnya – terutama karena tambahan bahan sintetis dan proses pengolahan berlebihan yang mengakibatkan munculnya zat bersifat karsinogenik (pemicu kanker). 

Namun sumber utama bangkitnya bibit sel kanker adalah ketidakseimbangan asam-basa tubuh akibat pola makan selama belasan tahun dominan makanan pembentuk asam daripada makanan pembentuk basa/alkalin. Makanan pembentuk basa adalah buah-buahan segar dan sayur-sayuran segar mentah – buah-buahan yg sudah dimasak tidak lagi bersifat sebagai pembentuk basa tetapi menjadi pembentuk asam, seperti setup buah, selai buah, manisan buah. Semua makanan selain buah-buahan segar dan sayur-sayuran segar mentah adalah pembentuk asam. 

Cara praktis mencukupi asupan makanan pembentuk basa: Setiap kali makan selalu luangkan porsi setengah piring terisi penuh dengan sayuran, khususnya sayur-sayuran segar mentah. Minum segelas jus aneka sayuran setidaknya 1 kali sehari, misalnya 30 menit setelah makan malam. Selain itu, makanlah buah-buahan segar hingga kenyang (tapi bukan kekenyangan) ketia perut kosong, misalnya 30 menit hingga 1 jam sebelum makan. 

Foto: Istimewa

Image

Sudah Food Combining, Belum Ada Hasilnya

Klien: “Pak Wied, saya sudah 3 bulan FC, tapi tensi saya tetep aja tinggi. Badan saya juga masih tebel kayak bantal. Salahnya di mana ya?”
Jawaban saya: “Porsi pembentuk asam-basanya bisa saja belum seimbang dan/atau perilaku makan yang belum baik.” Rinciannya saya sarikan dari buku Mb Andang WG *Food Combining: Kombinasi Makanan Serasi*, hal. 108-109, dengan tambahan penjelasan dari saya.

Penyebab 1: ASAM-BASA TIDAK SEIMBANG
*Asupan sayuran masih kurang*. Kombinasi menu khas FC lauk hewani+sayuran (menu protein) atau nasi+lauk nabati+sayuran (menu pati) tidak menjamin tercapainya keseimbangan asam-basa jika jumlah sayurannya terbatas. Untuk mendapatkan keseimbangan asam-basa yang baik, secara kasar Anda wajib menyisihkan 1/2 – 3/4 bagian piring makan adalah jatahnya sayuran (sebagian atau sebagian besar adalah sayuran mentah), selebihnya adalah porsi nasi dan/atau lauk-pauk. Sayuran mentah bisa dikonsumsi sebagai salad sayuran atau jus sayuran. Mengapa asupan sayuran mentah dipentingkan dalam FC? Sayuran mentah kaya “jus” (cairan/kadar air): 
*kaya mineral pembentuk basa/alkali, terutama yang bersifat relaksan dan hipotensif 
*memiliki pH tinggi (8,2-9) – terutama sayuran daun hijau setelah dibuat jus/sari sayuran, diproses dengan juicer 
*kaya enzim aktif yang menjadi tonikum bagi organ – selain itu, enzim juga berfungsi sebagai “tukang bangunan” yang akan memanfaatkan asupan nutrisi untuk berbagai keperluan: membangun imunitas, peremajaan sel, pemulihan, self-healing 
*kaya antioksidan penting 

Penyebab 2: PORSI MAKAN TERLALU BANYAK
*Makan kekenyangan membuat asam lambung tidak mampu membasahi seluruh makanan yang berada dalam lambung, terutama makanan di bagian tengah.* Makanan di dalam lambung akan melorot otomatis ke bagian bawah (usus), mulai dari yang terluar yang langsung bersentuhan dengan dinding lambung dan terairi asam lambung. Selanjutnya, makanan di bagian lebih tengah akan bergeser ke arah dinding lambung, demikian seterusnya. Namun jika makanan dalam lambung terlalu penuh, maka makanan pada bagian tengah lambung akan sulit terjangkau asam lambung karena lambung sudah keburu terisi makanan baru lagi. Akibatnya, banyak makanan yang tidak tecerna dengan baik, kemudian terfermentasi/membusuk menjadi toksin. Kegemukan bukan semata disebabkan kelebihan asupan kalori (pati, protein, lemak), tapi juga lantaran timbunan toksin melebihi batas toleransi tubuh. Secara alami, tubuh kita memiliki mekanisme membentuk lemak jika timbunan toksin melebihi batas toleransi. Jika tidak, timbunan toksin tersebut akan mengganggu fungsi organ dan sistem tubuh. 

Penyebab 3: MAKAN TERGESA-GESA
*Tidak mengunyah dengan seksama membuat tekstur makanan masih cukup kasar dan tidak terbasahi air ludah dengan baik*. Makanan yang tidak tercerna dengan baik di dalam mulut tersebut akan didorong ke bawah/usus oleh gerak peristaltik lambung, sehingga makanan akan terfermentasi/membusuk di dalam usus dua belas jari dan usus halus. 

FOTO: Istimewa

Image

Makanan Buatan Pabrik Tidak “Bernyawa”

Dikutip dari buku Terapi Enzim, Hiromi Shinya, MD, hal. 83-84

… IDEALNYA, MAKANAN DARI PABRIK 0% SAJA, ARTINYA TIDAK PERLU DIMAKAN SAMA SEKALI. …

Makanan yg kita makan dapat digolongkan menurut asal-muasalnya menjadi tiga jenis. Pertama, “yg berasal dari tanah”, kedua “yg berasal dari hewan”, kemudian yg ketiga “yg berasal dari pabrik”.

Makanan yg berasal dari tanah yaitu sayuran, biji-bijian, buah-buahan, rumput laut, jamur, dan lain-lain yg tumbuh besar di tanah. Ini juga termasuk fungsi seperti jamur, tetapi karena sebagian besar adalah tumbuhan dan bibit tumbuhan, kita bisa menggolongkannya menjadi “makanan dari tumbuhan”. 

Jenis kedua, makanan yg berasal dari hewan, yaitu daging sapi, daging babi, daging ayam, dan daging lainnya, juga ikan, kerang, cumi-cumi, udang, dan lain-lain golongan ikan dan kerang, yg berarti “makanan dari hewan”. Di dalamnya termasuk pula telur dan produk olahan susu, yg diambil dari hewan.

Yg ketiga, makanan yg berasal dari pabrik, yaitu jenis makanan yg dibuat manusia secara kimiawi, yaitu “penyedap rasa” [Wied Harry: MSG dan turunannya], macam-macam bahan aditif makanan, garam halus [refined salt], gula pasir murni, pemanis buatan, dan lain-lain. Selain itu, juga termasuk makanan olahan pabrik.

Makanan yg berasal dari tanah, jika bisa dimakan, pada dasarnya tidak ada yg dilarang dan tidak ada pembatasan jumlah asupan. Boleh Anda anggap 100% boleh dimakan. Tetapi, makanan yg berasal dari hewan memerlukan pembatasan konsumsi sampai jumlah tertentu karena jika terlalu banyak menyebabkan darah mengental, dan membuat raut lambung dan raut usus menjadi jelek.

Saya berpendapat, makanan yg disantap manusia sebaiknya sebanyak 85% berupa “makanan dari tumbuhan” yg berasal dari tanah, sisanya boleh diambil dari hewan. Makanan yg berasal dari tanah 85% dan makanan yg berasal dari hewan 15%. Ini sudah 100%. Tidak ada perlunya makan makanan buatan pabrik, Karena makanan yg berasal dari pabrik tidak “bernyawa”. MAKANAN OLAHAN PABRIK, MESKIPUN DAPAT DIMAKAN, TIDAK MAMPU MENGHIDUPI NYAWA ANDA.

Maka idealnya, makanan dari pabrik 0% saja, artinya tidak perlu dimakan sama sekali.

Tetapi manusia modern sangat sulit menghindari semua makanan yg diolah di pabrik. Bahkan bisa dikatakan mustahil secara realita. Saya sendiri tidak bisa sampai 0%. Karena itulah, sangat penting berhati-hati dalam mengonsumsi makanan kita, dan sebisa mungkin pilihlah makanan yg baik bagi tubuh. Untuk porsi makanan dari tumbuhan sedapat mungkin pilihlah yg baik (yg aman), kurangilah makan makanan dari hewan untuk mencegah terkurasnya enzim ajaib. 

ULASAN WIED HARRY:
Sebagai pelaku hidup sehat alami, mestinya tidak sulit kita melakukan arahan DR. Hiromi Shinya. Karena makanan olahan pabrik, seperti saus-saus botolan [saus tomat, saus cabai, saus tiram, dll], makanan kemasan/awetan [nugget, sosis, bakso, dll], makanan instan, tidak lagi masuk dalam daftar belanja keluarga. Kita lebih mengutamakan makanan segar alami, yg kita konsumsi seperti bentuk aslinya di alam atau masih dekat dengan bentuk aslinya di alam: sayur-sayuran segar, buah-buahan segar, padi-padian/serealia [beras merah, beras hitam, jali/barley, cantel/sorghum, dll], umbi-umbian [ubi jalar, singkong, uwi, dll], polong-polongan [kacang merah, kacang hijau, kacang tolo, kacang hitam, dll]. 

Tentu saja, sebagian [sukur-sukur SEBAGIAN BESAR] konsumsi sayuran segar kita adalah SAYURAN MENTAH karena masih berlimpah enzim – baik berupa salad sayuran, jus sayuran, maupun lalap sayuran mentah. Membatasi daging bukan hanya membatasi masuknya lemak jenuh, tetapi juga mengurangi beban berat organ cerna, terutama pankreas, liver, ginjal, karena kombinasi protein-lemak tinggi dalam makanan hewani sangat berat proses cernanya dan menguras banyak cairan tubuh. Selain itu, membatasi asupan makanan hewani juga menghemat habisnya stok enzim tubuh – dalam tubuh kita, enzim berperan seperti “tukang bangunan”, sehingga percuma Anda mengasup cukup kalori dan nutrisi vitamin-mineral [ibarat “bahan bangunan”] jika tidak cukup mengasup enzim. 

Mulai hari ini, mari kita makan enak dengan pemahaman-dan-kesadaran …

Image

Bisakah bayi menyerap zat besi sintetis?

21 Juni 2011 pukul 5:05

.:Riset:. [BAYI & ZAT BESI SINTETIS] Bisakah bayi menyerap zat besi (Fe) sintetis? RisetLousianaStateMedicalSchool pada 1995 terhadap 104 bayi: Sejak usia 6 bulan, mereka diberi MP-ASI susu & sereal yg diperkaya Fe & vitamin C untuk mempermudah penyerapan Fe.

Jumlah Fe yg diberikan lebih besar dari anjuran kecukupan asupan harian Fe.

Setelah 1 tahun, kadar Fe dalam tubuh bayi berkurang meskipun tidak sampai anemia.

Menurut para peneliti, bayi menggunakan cadangan Fe dalam tubuhnya untuk pertumbuhan & pembentukan sel darah merah, bukan dari Fe sintetis dalam MP-ASI.

Para peneliti juga berkesimpulan, bayi tidak baik diberi susu sapi, karena dapat menimbulkan perdarahan mikro pada usus yang menyebabkan bayi membutuhkan zat besi.

[Sumber: Buku *Rahasia Kecerdasan Anak: Memaksimalkan Perkembangan Otak*, hal. 105-106, Penerbit Kompas]

Image

Penuaan Dini: Mencegahnya Dengan Nutrisi Yang Benar

Dikutip dari buku Sehat Sejati Yang Kodrati, Dr. Tan Shot Yen, M.Hum, hal. 211-13

“Belakangan ini sudah banyak orang fasih menyebut istilah pola makan ‘sehat seimbang’. Tapi akhirnya bingung sendiri dengan terminologi indah itu. Sehat yg seperti apa? Sehat versi siapa? Seimbang apanya?

Ketika teknologi industri, transportasi, dan informasi berjalan di atas jalur super-cepat, imbas ke dunia pangan pun muncul. Istilah kepraktisan mengonsumsi makanan dan kecepatan saji menjadi prioritas yg perlu diperhitungkan. Pertambahan populasi dan ketersediaan pangan dari alam pun semakin memberi nilai krisis. Masalah muncul bukan hanya sebatas ketidakseimbangan jumlah ‘yg makan’ dan ‘yg dimakan’, tapi juga kerusakan alam akibat perbuatan manusia sehingga muncul krisis baru. Merasa tidak pernah cukup dan selalu menuntut lebih dari alam menjadikan manusia memperlakukan alam sebagai objek eksploitasi dan bagian terpisah dari kehidupan manusia itu sendiri. 

Pilihan jenis karbohidrat, misalnya, pada usia tumbuh kembang dan remaja tidak mungkin sama dengan usia dewasa apalagi usia lanjut. Tapi yg terjadi di Indonesia: bila anak SD makan nasi 5 sendok makan, maka ayahnya atau kakeknya harus makan 3 kali lebih banyak dari 5 sendok makan. Asumsinya adalah tubuh ayah dan kakek lebih besar, jadi butuh ‘lebih banyak nasi’. Padahal kakek dan ayah sudah berada di usia ketika penyakit degeneratif mulai menampakkan diri dan risiko penuaan dini muncul. 

Formulasi tentang sumber karbohidrat dan pendayagunaannya, misalnya, sudah lama mengalami stagnasi. Pengetahuan tentang nilai kualitatif karbohidrat saja baru dimulai tahun 1981 (Jenkins and Wolever) yang merupakan awal penelitian tentang indeks glikemik. Sedangkan penelitian kualitatif protein sudah dikerjakan sejak 1919 (Osborne and Mendel) dan lemak pada tahun 1932 (Burr and Burr). 

Publik dan bahkan para pakar sudah begitu lama terfokus pada hukum piramida makanan yg tak tergoyahkan. Ada keengganan untuk merevisi kembali pandangan kualitatif tentang sumber karbohidrat yg sesuai untuk berbagai fase kehidupan manusia. Sekalipun dari sekian banyak penelitian terakhir menjelaskan bahwa KARBOHIDRAT TERBAIK YG LAYAK DIASUP MANUSIA PERLU MEMENUHI 5 KRITERIA: RENDAH INDEKS GLIKEMIK, TINGGI SERAT, KAYA ANTIOKSIDAN, BERSIFAT ALKALIS, dan MASIH POTENSIAL DENGAN ENZIM [WH: penulisan KAPITAL oleh Wied Harry]. Tak jarang produsen memanfaatkan klaim dari institusi kesehatan sebagai patokan bagi standar kesehatan yg akhirnya jadi sumber kerusakan fatal yg berlangsung dari generasi ke generasi.

Miskinnya pengetahuan dan sumber yg dapat dipercaya membuat masyarakat pun terperosok dalam masalah yg lebih besar lagi. Salah satu contoh paling populer adalah istilah produk gandum. Jargon ini bermula dari dunia Barat yg sudah meninggalkan produk rafinasi (refined foods). Namun ternyata tidak sepenuhnya demikian. Pada kenyataannya, roti gandum hanya sekadar nama. ROTI GANDUM YG ADA DI PASARAN 80% MASIH MEMPUNYAI CAMPURAN TEPUNG PUTIH YG SUDAH DIRACIK DENGAN ‘BAHAN ROTI’ – MULAI DARI PENGEMBANG, PELEMBUT, DAN PENGUAT RASA. GANDUM [WHOLE GRAINS] SUDAH KEHILANGAN MAKNANYA BEGITU MASUK MESIN OLAH, LALU LOYANG BERMARGARIN, MENJADI BISKUIT ATAU DIKUNYAH DENGAN TEH MANIS [WH: penulisan KAPITAL oleh Wied Harry].

Jika asupan bayi akhirnya perlu dikembalikan ke kodratnya, yakni ASI, maka barangkali fenomena ini merupakan teguran untuk berjuang kembali ke makanan asli – kalau mau sehat dengan cara kodrati. …”

ULASAN WIED HARRY:
Sumber karbohidrat terbaik bagi tubuh adalah yg memenuhi 5 kriteria [rendah indeks glikemik, tinggi serat, kaya antioksidan, bersifat alkalis, masih potensial dengan enzim]. Bahan makanan yg memenuhi kriteria tersebut adalah SAYUR-SAYURAN SEGAR MENTAH. Kecuali mengenyangkan, karena kaya serat tak tercerna, sayuran segar mentah juga menyediakan berlimpah antioksidan dan enzim penghambat penuaan. 

Makin banyak kita mengonsumsi makanan tidak alami [secara fisik jauh dari bentuk aslinya di alam], makin banyak kita mengeksploitasi alam, sehingga semakin besar pula andil kita mewariskan alam yg tidak bersahabat kepada anak-cucu kita. Jadi, mari lebih sering menikmati kudapan pisang kukus atau buah segar daripada pizza, cake, makanan kemasan, makanan cepat saji. Selain itu, makanan alami paling ramah dengan sistem metabolisme kita. 

Mau terus dengan kebiasaan makan amburadul selama ini atau mau berubah? Keputusan sepenuhnya ada di hati nurani kita masing-masing. Toh kesehatan bukan milik tetangga, tetapi … milik kita sendiri 

Foto: Istimewa

Image

Tanda-tanda Peringatan Stroke

Tanda-tanda Peringatan Stroke:
[1] Mati rasa atau merasa lemah mendadak, khususnya pada salah satu sisi tubuh [pada kaki, tangan, wajah, atau bagian tubuh lainnya].
[2] Bingung mendadak.
[3] Mendadak sulit bicara normal atau memahami sesuatu.
[4] Mendadak kehilangan daya pandang pada salah satu atau kedua mata.
[5] Mendadak sulit berjalan, kehilangan keseimbangan, atau berkurangnya koordinasi fisik.
[6] Serangan sakit kepala dan pusing yang parah dan mendadak. 
Sumber: The Secret of Staying Young – Menjadi Lebih Muda, Berapa Pun Usia Anda, hal. 134, John E. Morley, M.D. & Sheri R. Colberg, Ph.D., Penerbit Qanita

ULASAN WIED HARRY:
Makanan bisa membantu mencegah agar ‘peringatan’ ini tidak sampai terjadi. Kunci utama adalah perhatikan selalu keseimbangan asam-basa menu harian kita. 

Yang terbaik adalah setiap kali makan-minum, utamakan asupan pembentuk basa, yakni buah-buahan segar dan sayur-sayuran seger – khususnya sayuran mentah. Batasi konsumsi makanan-minuman pembentuk asam. Semua makanan-minuman selain buah segar dan sayuran segar (mentah) adalah pembentuk asam. Yakni pati dan gula (nasi, ubi, singkong, jagung, aneka jenis tepung, gula pasir, sirup, susu kental manis, dll), protein – hewani maupun nabati (ayam, ikan, daging, tempe, tahu, dll), lemak/minyak (minyak goreng/makanan gorengan, mentega/kue-kue dengan mentega, santan/makanan-minuman bersantan, dll). Selain itu, semua makanan-minuman olahan, termasuk buah segar atau sayuran segar yang diolah pun umumnya beralih menjadi pembentuk asam, seperti manisan buah, sawi asin. 

Jika ditakar per porsi/piring, mestinya kavling 1/2 piring – sukur-sukur jika bisa 3/4 piring – adalah jatah sayuran segar, khususnya sayuran segar mentah. Baru sisa kavling di piring diisi dengan pati-protein dan sedikit lemak. Asupan protein hewani cukup dari 1 jenis saja per hari (misalnya hanya ayam saja atau hanya ikan saja atau hanya telur saja, bukan lauk ayam + lauk ikan + lauk telur), itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. 

Salam sehat …

FOTO: Istimewa

Image

Potret Meja Makan Orang Barat

Dikutip dari buku Sehat Itu Murah, Dr. Handrawan Nadesul, hal. 129
“Sumber kalori orang Barat berasal dari terigu, lemak, dan gula pasir. Rata-rata jenis menu tersebut sudah buatan pabrik (refined diet), barang kalengan, makanan diproses lainnya, serta bahan makanan yg biasa disimpan (freezing) di lemari es.

Jenis menu seperti itu sudah kehilangan sebagian besar zat gizi, termasuk vitamin dan mineral. Itu sebabnya makanan ini tergolong “makanan ampas” atau makanan “kosong nutrisi”. 

Ada bukti bahwa sebagian orang Amerika Serikat kekurangan asupan vitamin A, vitamin C, kalsium, dan beberapa mineral lainnya.
Kekurangan trace element (Wied Harry: mineral mikro) esensial menimbulkan penyakit-penyakit tersendiri. Metabolisme tubuh terganggu, fungsi mesin tubuh menjadi berubah abnormal. 

Fungsi tubuh yg abnormal betul tidak fatal, namun kekurangan zet gizi esensial yg berlangsung menahun dapat berkonsekuensi buruk. Sebut saja mineral mikro kromium dan seng. Di banyak negara, kekurangan kromium akibat gandum dalam terigu sebagai menu utama sudah kehilangan kromiumnya. Demikian pula kromium dalam tebu (Wied Harry: gula) dan lemak yg diolah pabrik. Wabah kekurangan mineral menimbulkan penyakit pembuluh darah.

Homeostasis (kemampuan tubuh menyeimbangkan diri) gula dan kolesterol dalam tubuh terganggu bila tubuh kekurangan kromium. 

Kebanyakan menu Barat berisiko kekurangan vitamin B6 (piridoksin), seperti dicatat Murphy cs. Kekurangan vitamin ini meningkatkan penyakit pembuluh darah juga. Lapisan dalam pembuluh darah arteri mengalami cedera, yg kemudian diisi oleh lapisan karat lemak (aterosklerosis) awal dari penyakit jantung koroner, stroke, gangguan ginjal, dan penyakit bola mata.

ULASAN WIED HARRY:
Tulisan Dr. Hans di atas menjadi bukti bahwa kecukupan kalori saja belum cukup. Artinya, makan makanan olahan/kalengan/kemasan/instan/sejenisnya meskipun mengenyangkan dan tampaknya memenuhi kecukupan kalori-protein-dan nutrisi lain, bukan tanpa risiko bagi kesehatan. 
Sebab, tubuh kita tidak hanya memerlukan kalori dan nutrisi, tetapi juga memerlukan enzim, “nutrisi” bioenergi yg diperlukan untuk mengolah asupan nutrisi (vitamin-mineral) agar bermanfaat bagi tubuh. Ibarat membangun dan merenovasi rumah, kalori dan beragam nutrisi adalah bahan bangunannya, sedangkan enzim adalah tukang bangunannya. So, mari kita mengerahkan lebih banyak “tukang bangunan” ke dalam tubuh kita, yakni buah-buahan segar dan sayur-sayuran segar mentah.

FOTO: Istimewa

Image