Kanker Bisa Dicegah

Dikutip sesuai aslinya dari buku ANDA TIDAK PERLU SAKIT Dr. Handrawan Nadesul, hal. 189-192.

“Betul hidup kita sudah dikepung oleh beraneka ragam kimia kanker atau carcinogen. Paling banyak berasal dari apa yang kita konsumsi. Mungkin dari jajanan. Bisa jadi dari menu restoran. Mana tahu dari dapur kita sendiri ketika bahan baku menu sudah tidak segar lagi, terkontaminasi pupuk, pestisida, herbisida, dan salah mengolahnya.

Daging sendiri sudah tidak menyehatkan jika dikonsumsi berlebih. Tapi daging yang diberi sodium nitrite yang bikin daging berwarna merah segar sekaligus sebagai pengawet, juga kimia kanker. Minyak goreng yang berkali-kali dipakai juga bertabiat buruk sama bagi tubuh. Termasuk udara dan gelombang elektromagnetik yang memapar tubuh kita setiap hari. Mana mungkin kita berkelit.

Kimia kanker bersekutu dengan radikal bebas di mana-mana. Mungkin ada dalam minuman, cat tembok, atau di oncom yang kita makan. Mana tahu juga ada di ikan asin, permen, dan makanan bayi. Jadi, semakin sulit kita mengelak dari itu semua.

Barangkali itu sebabnya, kanker semakin banyak. Hidup kita sudah dikepung oleh faktor yang menyuburkan sel kanker bertumbuh. Sebagian masih mungkin kita elakkan kalau kita tahu pencetusnya. Berapa bahaya kimia pada kulit apel impor? Berapa buruk kimia bentukan dari makanan asap (heterocyclic amines)? Sekadar gosong satai pun perlu diwaspadai.

Bukan tembakau peringkat atas pencetus kanker, melainkan diet harian kita. Maka, faktor diet harus dicermati betul. Kembalilah ke menu nenek, dan menu Barat yang sudah diakui kalau mereka keliru, dan berbondong-bondong mereka kembali ke menu alami, harus dibuang jauh. Jangan pula kita malah mengekor memilih menu mereka yang tak tepat itu.

Bukti ilmiah ihwal menu terkait kanker tidak sedikit dilaporkan. Perlu diingat, tidak semua yang berasal dari alam tentu aman. Aflatoxin dalam oncom yang berkapang, mencetuskan kanker hati. Kapang yang sama juga mungkin ada di jamu buatan rumah, atau tembakau, atau kecambah, atau apa saja hasil bumi yang penyimpanannya tidak baik. Maka, berhati-hatilah mengonsumsu kacang-kacangan dan padi-padian.

Ikan asin mengandung kimia kanker nitrosamine. Kebanyakan ikan asin berisiko kanker juga, apalagi kalau sudah disemprot obat nyamuk supaya tidak ada belatungnya. Kerupuk merah kinclong, seperti halnya saus tomat murah hampir pasti memakai pewarna tekstil (rhodamine B) yang juga carcinogen. Hampir semua pemanis buatan jajanan memakai yang murah dan tak aman bagi tubuh. Dilaporkan kimia kanker dioxin sudah merambah sampai ke makanan bayi. Kimia ini produk akhir bakaran industri.

Kimia kanker itu yang mengubah tabiat sel tubuh yang sehat. Sel tubuh berubah tidak lagi mematuhi aturan biologis dalam berbiak diri. Sel bertumbuh abnormal dan membentuk tumor. Jika tumor berkembang menjadi jalang, maka ia berubah menjadi kanker. Kanker berarti tumor yang tidak jinak.”

ULASAN WIED HARRY:
Sodium nitrite alias natrium nitrit -nama awamnya *sendawa*- oleh ibu-ibu jaman dulu kerap digunakan untuk membuat masakan daging tetap berwarna merah. Dan, ironisnya di Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat ada penjual sop daging dengan warna merah begini, yang justru larees-manees… [::menulis sambil merasa miris::]. Sendawa juga lazim dibubuhkan ke dalam daging olahan industri, seperti corned beef, sosis daging. 

Jika kita semakin terkepung oleh cemaran kimia kanker dalam makanan, apa yang dikatakan Dr. Hans itu benar. Ikan asin disemprot obat nyamuk supaya tidak belatungan, ikan segar disiram formalin pengawet mayat supaya tidak segera membusuk, saus tomat murah dibubuhi pewarna tekstil, dll. Semua itu beredar di sekitar kita. 

Lantas, fungsi pengawasan Pemerintah di mana? Please deh, jangan menggugat itu, daripada hormon kortisol kita semakin meningkat -lantaran stres- dan justru menyuburkan calon-calon sel kanker. Jauh lebih baik kita “melupakan” tugas dan kewajiban Pemerintah mengawasi dan melindungi pangan rakyat, yuk kita mengawasi dan melindungi pangan keluarga kita masing-masing saja dulu. Syukur jika bisa ikut berbagi mengawasi dan melindungi pangan para Sahabat Sehat kita, dengan berbagi pengetahuan seperti ini dan/atau menghasilkan produk pangan yang bertanggung jawab untuk mereka [jika kita petani, peternak, penjasa boga]. 

Mulai hari ini, pastikan piring makan kita separuhnya selalu terisi dengan sayuran – apalagi jika itu sayuran segar mentah. Separuh sisa kavling di piring adalah jatah nasi merah/nasi hitam dan lauk-pauk. Jika Anda pelaku vegetarian, tentu sisa kavling adalah jatah bagi nasi merah/nasi hitam dan lauk nabati. Jika Anda pelaku Food Combining (FC), sisa kavling di piring makan Anda adalah untuk lauk hewani (cukup 1 jenis saja) pada menu makan siang dan untuk nasi merah/nasi hitam dan lauk nabati untuk menu makan malam. 

Untuk melengkapi diet sehat Anda, selalu nikmati beragam jenis buah-buahan segar ketika perut kosong (pagi hari atau 30 menit sebelum makan). 

Selamat menjauhi kanker …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s