Terseret Industri Pangan

Mestinya industri pangan membantu kita mendapatkan makanan darurat – yg terpaksa kita konsumsi lantaran keterpaksaan. Namun faktanya, pangan industri (makanan-minuman-bumbu kalengan/kemasan/botolan/instan/sejenisnya) justru mendominasi pola makan kita sehari-hari. 
Dikutip dari buku Sehat Sejati Yang Kodrati, Dr. Tan Shot Yen, M.Hum, Penerbit Dian Rakyat
“… Ketika teknologi industri, transportasi, dan informasi berjalan di atas jalur supercepat, imbas ke dunia pangan pun muncul. Istilah kepraktisan mengonsumsi makanan dan kecepatan saji menjadi prioritas. …
Pilihan jenis karbohidrat misalnya, pada usia tumbuh kembang dan remaja, tidak mungkin sama dg usia dewasa apalagi usia lanjut. Tapi yg terjadi di Indonesia: bila anak SD makan nasi 5 sendok, maka ayahnya atau kakeknya harus makan 3 kali lebih banyak dari 5 sendok. Asumsinya adalah tubuh ayah dan kakek lebih besar, jadi butuh ‘lebih banyak nasi’. Padahal kakek dan ayah sudah berada di usia ketika penyakit degeneratif mulai menampakkan diri dan risiko penuaan dini muncul.
Formulasi tentang sumber karbohidrat dan pendayagunaannya misalnya, sudah lama mengalami stagnasi. Pengetahuan tentang nilai kualitatif suatu karbohidrat saja baru dimulai tahun 1981 yang merupakan awal mengenai penelitian tentang indeks glikemik. Sedangkan penelitian kualitatif protein sudah dikerjakan sejak tahun 1919 dan lemak pada tahun 1932. 
Publik dan bahkan para pakar sudah begitu lama terfokus pada hukum piramida makanan yg ‘tak tergoyahkan’. Ada keengganan untuk merevisi kembali pandangan kualitatif tentang ‘sumber karbohidrat’ yg sesuai untuk berbagai fase kehidupan manusia. Sekalipun dari banyak penelitian terakhir menjelaskan bahwa karbohidrat terbaik yg layak diasup manusia perlu memenuhi 5 kriteria: rendah indeks glikemik, tinggi serat, kaya antioksidan, bersifat alkalis, dan masih potensial dg enzim. Tak jarang produsen memanfaatkan klaim dari institusi kesehatan sbg patokan bagi standar kesehatan yg akhirnya jadi sumber kerusakan fatal yg berlangsung dari generasi ke generasi.
Miskinnya pengetahuan dan sumber yg dapat dipercaya membuat masyarakat pun terperosok dlm masalah yg lebih besar lg. Salah satu contoh yg paling populer adalah istilah produk gandum. Jargon ini bermula dari dunia Barat yg sudah meninggalkan produk refinasi (refined foods). Namun ternyata tidak sepenuhnya demikian. Pada kenyataannya, roti gandum hanya sekadar nama. Roti gandum yg ada di pasaran 80 persen masih mempunya campuran tepung putih yg sudah diracik dg ‘bahan roti’ – mulai dari pengembang, pelembut, dan penguat rasa. Gandum/whole grains sudah kehilangan maknanya begitu masuk mesin olah lalu loyang bermargarin menjadi biskuit atau dikunyah dg teh manis.
Jika asupan bayi akhirnya perlu dikembalikan ke kodratnya -ASI, maka barangkali fenomena itu merupakan teguran untuk berjuang kembali ke makanan asli- kalau masih mau sehat dg cara kodrati.”

ULASAN WIED HARRY:
Saatnya untuk merontokkan keyakinan bahwa porsi makan nasi para ortu harus sekian kali lipat anak2. Jika mau melipatgandakan, mestinya adalah porsi karbo yg memenuhi 5 kriteria spt yg disebutkan penulis, yakni [1] rendah indeks glikemik, [2] tinggi serat, [3] kaya antioksidan, [4] bersifat alkalis, dan [5] masih potensial dg enzim. Nah, karbo yg memenuhi kriteria tsb hanya satu, yakni SAYURAN SEGAR MENTAH. Mestinya termasuk kelapa muda dan avokad. 

Putuskan apa yg terbaik bagi diri sendiri. Artinya, Anda bisa kompromi – tentu dg manfaat sehat berbeda. Pertama, mau sepenuhnya meninggalkan nasi maupun karbo lainnya (roti, mi, bihun, dll), untuk segera berganti menjadi pelaku raw food, mengutamakan makanan nabati mentah, terutama sayur-sayuran segar mentah dan buah-buahan segar. Kedua, tetap mengonsumsi nasi terbatas -harus nasi merah atau nasi hitam alami kaya serat- dan mengonsumsi sayur-sayuran segar mentah sebanyak mungkin. Utamakan makanan alami dan segar, pelahan-lahan tinggalkan makanan-minuman-bumbu pabrikan/industri. 

Pilihan sepenuhnya ada di tangan kita.

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s